Awalnya, lokasi pembuangan berada di area yang lebih rendah. Namun seiring waktu, aktivitas dipindahkan ke lokasi yang sekarang karena memiliki ruang yang lebih luas.
Setiap hari sekitar 40 hingga 45 ritase kendaraan pengangkut sampah datang ke lokasi tersebut.
Jenis armada yang digunakan beraga –mulai dari truk amrol, dump truck, tronton, hingga kendaraan pickup.
Baca Juga:Drainase Depan PT Kahatex Sumedang Diduga Tak Berfungsi, Jalan Bandung–Garut Banjir SampahSumedang Masuk Daftar 336 Daerah Darurat Sampah di Indonesia, DLHK Akui Pengelolaan Belum Optimal
Dengan jumlah armada sekitar 17 unit, setiap kendaraan bisa melakukan dua hingga tiga kali perjalanan dalam sehari.
“Kalau soal cukup atau tidaknya armada itu kebijakan kantor. Kami di lapangan yang penting menjalankan tugas agar sampah bisa tertangani,” kata Hari.
Selain para pemulung, terdapat sekitar 25 staf yang menangani operasional pengelolaan sampah.
Tiga operator alat berat juga bekerja membantu proses penataan gunungan sampah agar tidak meluas dan tetap terkendali.
Namun bekerja di tempat seperti ini tidak selalu mudah. Hari masih ingat bagaimana dulu akses menuju TPAS sering menjadi persoalan. Jalan menuju lokasi yang licin dan berbatu kerap membuat kendaraan pengangkut kesulitan melintas.
Beberapa kecelakaan bahkan pernah terjadi akibat kondisi medan yang tidak bersahabat.
Selain persoalan teknis, dinamika sosial juga tak jarang muncul.
Warga sekitar sesekali mengeluhkan bau menyengat yang muncul dari aktivitas pembuangan sampah. Pada hari-hari tertentu, aroma tersebut bisa terbawa angin hingga ke permukiman warga.
Baca Juga:Minim PJU, Jalur Wado–Sumedang di Situraja Gelap GulitaSudah Lama Rusak, Jalan Desa Cigintung Sumedang Tak Kunjung Diperbaiki
Meski begitu, aktivitas di TPAS tetap berjalan setiap hari. Bagi para pemulung, gunungan sampah itu justru menjadi harapan.
Dari sanalah mereka membawa pulang uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Ke depan, pengelola berharap sistem pengolahan sampah di lokasi ini dapat berubah menjadi lebih modern.
Teknologi baru tengah dipersiapkan agar sampah tidak hanya ditumpuk, tetapi bisa diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Jika rencana itu terwujud, mungkin suatu hari nanti gunungan sampah di lereng Gunung Tampomas tak lagi sekadar menjadi tempat pembuangan terakhir.
Melainkan juga menjadi tempat lahirnya cara baru memperlakukan sampah.(red)
