Di lereng Gunung Tampomas, gunungan sampah berdiri seperti bukit kecil yang terus bertambah setiap hari. Di bawah panas matahari dan bau menyengat, puluhan orang menyusuri limbah itu –bukan sekadar mencari barang bekas, tetapi mempertahankan hidup.
REDAKSI, Sumedang Ekspres
BAU menyengat langsung menyergap begitu kendaraan memasuki kawasan TPAS Cibeureum di Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang.
Truk-truk pengangkut sampah datang silih berganti. Setiap kendaraan menurunkan muatan yang tak pernah berhenti mengalir dari berbagai penjuru daerah.
Di tempat inilah perjalanan terakhir sampah masyarakat Sumedang berakhir.
Baca Juga:Drainase Depan PT Kahatex Sumedang Diduga Tak Berfungsi, Jalan Bandung–Garut Banjir SampahSumedang Masuk Daftar 336 Daerah Darurat Sampah di Indonesia, DLHK Akui Pengelolaan Belum Optimal
Namun di balik tumpukan sampah yang menggunung itu, kehidupan tetap bergerak.
Puluhan orang menggantungkan nasibnya di sana –memilah, mengais, dan berharap masih ada barang yang tersisa nilainya.
Sekitar 50 pemulung setiap hari menyusuri gunungan sampah. Dengan karung di punggung dan pengait di tangan, mereka mencari plastik, logam, hingga botol bekas yang masih bisa dijual kembali.
Di sisi lain, alat berat sesekali meraung keras. Mesin itu meratakan sampah yang baru saja diturunkan dari bak truk, membentuk lapisan demi lapisan limbah yang terus bertambah.
Tempat pembuangan akhir ini berdiri di kawasan lereng Gunung Tampomas, di atas lahan sekitar 10 hektare.
Dahulu, area tersebut merupakan bekas pertambangan pasir.
Lubang-lubang bekas galian yang ditinggalkan kemudian berubah fungsi menjadi tempat berkumpulnya limbah rumah tangga dari seluruh penjuru Kabupaten Sumedang.
Seiring waktu, gunungan sampah pun terus bertambah tinggi.
Di tengah aktivitas itu, Hari berjalan pelan menyusuri area kerja.
Pria paruh baya itu bukan orang baru di lokasi tersebut. Ia mengaku sudah bekerja di TPAS ini selama sekitar 14 tahun. Hari menjadi salah satu staf senior yang paling lama bertugas di sana.
Baca Juga:Minim PJU, Jalur Wado–Sumedang di Situraja Gelap GulitaSudah Lama Rusak, Jalan Desa Cigintung Sumedang Tak Kunjung Diperbaiki
“Sudah sekitar 14 tahun saya di sini. Barengan juga dengan teman operator alat berat. Kami termasuk yang paling lama bekerja di sini,” ujarnya saat ditemui Sumeks, Rabu (11/3).
Selama belasan tahun itu, ia menyaksikan sendiri bagaimana sampah terus berdatangan tanpa henti.
Menurutnya, TPAS tersebut sebenarnya sudah beroperasi lebih dari tiga dekade.
