Sidang Kabinet "Ngopi" Warga Gang

Sidang Kabinet \"Ngopi\" Warga Gang
Tak tiap malam saya berkesempatan ikut nimbrung di \"sidang paripurna\" warga gang. Maklumlah, punggung saya lebih sering bengkok bukan karena memikirkan nasib bangsa, melainkan karena seharian sibuk menyemir sepatu, kadang sepatu para pejabat.
0 Komentar

Enggan untuk menggulingkan kekuasaan sang dollar, tak semangat berjuang mempertahankan kedaulatannya. Padahal arogansi “Benjamin Franklin” membuat kelimpungan stabilitas politik dan ekonomi.

Menu agenda sidang kami adalah perubahan wajah di uang kertas yang selalu penuh drama. Senyum Soekarno-Hatta jarang sekali mampir.

Dompet kami lebih akrab dengan wajah kaku Tjut Mutia atau Mohammad Hoesni Thamrin. Semakin kecil nilainya, semakin kaku wajahnya. Dan sepertinya, senyum proklamator kita akan benar-benar tenggelam, digilas oleh besar kepalanya wajah Benjamin Franklin dari negeri Paman Sam sana.

Baca Juga:Pengajian Rutin Kamisan, Wadah Silaturahmi dan Pembinaan Keagamaan Ibu-Ibu Desa TanjungmekarPemdes Padasuka Bangun Tiga Rumah Rutilahu

Kami tak tahu persis bagaimana sidang kabinet yang sesungguhnya. Barangkali, mereka sibuk menyiapkan data (yang semoga tidak asal-bapak-senang). Sementara keluhan kami warga yang taat bayar pajak meski dompet sedang diet ketat tak masuk dalam agenda rapat.

Kami di gang ini hanya berbagi rasa: bahwa hidup memang perlu diseduh dengan air mendidih campur bubuk kopi, agar pahitnya bisa kita nikmati. Bukan sekadar ditelan mentah-mentah sampai ke tenggorokan.

Besok, kami harus berakrobat lagi. Menari di atas tali tipis nasib, berusaha mengumpulkan senyum Soekarno-Hatta agar tak kalah oleh gertakan Benjamin Franklin. Jika akhirnya senyum Dr. Ratulangi di lembaran dua puluh ribu pun harus ikut luntur, biarlah. Kami tetap berjuang untuk hidup kekuarga kami.

Kopi pahit yang tersaji di bangku kayu seolah jadi saksi bisu dari sulitnya perjuangan mengais nafkah.

Nyeruput kopi adalah “jeda iklan” di tengah film kehidupan yang menghimpit dan membosankan. Asap rokok yang mengepul bergumpal tak karuan, percis gambaran masa depan yang semakin tak jelas. Kerutan di bangku kayu seirama dengan kerutan di wajah-wajah kami yang sulit kembali rata. Bahkan mendahului kerutan di kursi-kursi pejabat yang empuk.

Kopi pahit ini adalah satu-satunya hal yang sepenuhnya dalam kendali kami. Ia setia, jujur, dan tidak pernah berbohong soal rasanya. Sementara kebijakan? Ah, itu kan urusan mereka yang sepatunya kinclong.

Bagi kami, punggung yang ringan karena berbagi beban di bangku kayu ini sudah cukup. Seperti gelas kopi yang kosong dan puntung rokok yang jadi abu, setidaknya kami tahu kapan harus berhenti—sebelum nasib benar-benar membuat kami mati gaya. (Kang Marbawi, 120626)

0 Komentar