Sidang Kabinet "Ngopi" Warga Gang

Sidang Kabinet \"Ngopi\" Warga Gang
Tak tiap malam saya berkesempatan ikut nimbrung di \"sidang paripurna\" warga gang. Maklumlah, punggung saya lebih sering bengkok bukan karena memikirkan nasib bangsa, melainkan karena seharian sibuk menyemir sepatu, kadang sepatu para pejabat.
0 Komentar

SUMEDANGEKSPRES – Tak tiap malam saya berkesempatan ikut nimbrung di “sidang paripurna” warga gang. Maklumlah, punggung saya lebih sering bengkok bukan karena memikirkan nasib bangsa, melainkan karena seharian sibuk menyemir sepatu, kadang sepatu para pejabat.

Sepatu-sepatu itu harus kinclong, harus gagah, supaya saat mereka melangkah menuju mimbar kebijakan yang katanya “pro-rakyat”. Mereka tidak tersandung oleh janji-janji kampanye mereka sendiri yang sudah berdebu.

Bagi kami, ngopi adalah rapat kabinet yang sesungguhnya. Bedanya, kalau “beliau-beliau” di Istana sana, bersidang di atas karpet merah dengan pendingin ruangan yang suhunya diatur agar tidak bikin keringat dingin

Baca Juga:Pengajian Rutin Kamisan, Wadah Silaturahmi dan Pembinaan Keagamaan Ibu-Ibu Desa TanjungmekarPemdes Padasuka Bangun Tiga Rumah Rutilahu

padahal mungkin hatinya sedang panas karena takut kursinya digoyangkami cukup bersidang di atas bangku kayu yang paku-pakunya mulai unjuk gigi.

Macam demo mahasiswa menuntut perbaikan ekonomi dan turunkan dolar. Pendingin kami adalah angin sepoi-sepoi yang sesekali membawa bau comberan, dan kalau ada motor lewat, kami harus melipat kaki, layaknya menteri yang takut kena resuffle.

Isu yang kami bahas? Sama beratnya dengan beban hidup. Soal sampah yang menumpuk, got yang tersumbat, sampai misteri hilangnya isi dompet yang lebih cepat daripada janji manis partai politik.

Uang di dompet kami tak pernah betah tinggal lama, ia seolah punya agenda pribadi untuk kabur entah ke mana, enggan balik lagi.

Di “sidang” ini, Bang Agun bertindak sebagai pemimpin. Ia bicara berbusa-busa, detail sekali, persis menteri yang baru dilantik dan sedang memamerkan program seratus hari yang entah kapan berakhirnya.

Bedanya, kalau menteri bicara program pakai bahasa asing yang bikin dahi mengernyit, Bang Agun pakai bahasa rakyat yang bikin perut mulas mulas menahan tawa getir.

Soal politik tingkat tinggi seperti yang diributkan mantan ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto itu tak masuk menu utama.

Baca Juga:Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Pakar Transportasi: Masyarakat Kian TerjepitDisarpus Sumedang Gelar Lomba Resensi Buku untuk Pelajar

Bagi kami, itu urusan langit. Bisa jadi di sidang Istana, bahas jumawanya kurs dollar yang angkuh bukan main. Ia terus membumbung tinggi, seolah sedang melakukan pendakian gunung yang tak ada puncaknya.

Sementara rupiah kita? Ia seolah menteri yang sedang dirayu-rayu agar mau berjuang, tapi malah loyo di pojokan pasar.

0 Komentar