Di situlah kepercayaan komunal dibangun. Orang jadi tahu siapa tetangganya, siapa yang suka ngeles, siapa yang rajin, siapa yang cuma datang buat foto lalu kabur.
Semua itu melahirkan prestise sosial. Yang rajin kerja bakti, namanya harum. Yang malas, namanya tenggelam.
Kalau dipikir-pikir, gotongroyong itu lebih hebat dari seminar motivasi. Ia mengajarkan bahwa hidup bukan soal “aku”, tapi soal “kita”.
Baca Juga:APDESI Sumedang Soroti Penempelan Stiker di Rumah Penerima Bansos Kepsek Purnabhakti Daftar Calon Kades
Ia menanamkan logika sederhana: kalau jalan gang bersih, semua enak lewat. Kalau got mampet, semua kebanjiran. Jadi, gotongroyong itu bukan sekadar kerja bakti, tapi perlawanan terhadap egoisme.
Sayangnya, di kota besar, gotongroyong sering kalah oleh logika kapitalisme. Orang lebih suka bayar tukang kebersihan ketimbang turun tangan sendiri.
Lebih suka bayar satpam ketimbang jaga ronda. Akhirnya, gotongroyong jadi barang antik, dipajang di museum budaya. Padahal, gotongroyong itu jantung solidaritas sosial bangsa.
Hebatnya, gotongroyong juga jadi senjata kaum lemah. Ia menolak logika kapitalisme yang serba “gue duluan”. Gotongroyong bilang: “Kalau cuma mikirin diri sendiri, silakan jadi patung di museum. Hidup di kampung butuh kesalingan.”
Gotong royong adalah kearifan lokal altruistik yang seharusnya harus terus kita jaga, rawat, wariskan dan abadikan. Jantung solidaritas sosial masyarakat Indonesia.
Sebab dalam gotong royong sebenarnya ada perlawanan terhadap logika kapitalisme dan individualistik. Ia menjaga ruang komunal dari penetrasi pasar, sekaligus menjadi “senjata kaum lemah” untuk bertahan menghadapi ketimpangan. (#Kang Marbawi, 100826)
