SUMEDANGEKSPRES – Geoteater Rancakalong tak sekadar menjadi ruang pertunjukan, tetapi menjelma panggung hidup kebudayaan Sumedang.
Di tempat itu, kawih, tari, dan atraksi tradisi berpadu, menghadirkan Ekosistem Budaya Kasumedangan sebagai denyut yang terus menjaga warisan leluhur agar tetap bernapas di tengah zaman.
REDAKSI, Sumedang Ekspres
GEOTEATER Rancakalong tak lagi sunyi. Dari panggung terbuka yang menyatu dengan alam, suara kawih, hentakan kendang, dan tiupan tarompet tradisional bergema, menyambut masyarakat yang datang silih berganti.
Baca Juga:Gotong Royong Bangun Jembatan Merah PutihJanuari Penuh Berkah: Bupati Dony Pastikan MAN IC Sumedang Siap Digunakan Awal Tahun Depan
Sumedang kembali merawat ingatan budayanya melalui Ekosistem Budaya Kasumedangan (EBK) #7, sebuah ruang perjumpaan antara tradisi, seniman, dan warga.
Pertunjukan dibuka dengan Kawih Kaulinan Urang Lembur yang dibawakan HSN. Lantunan lagu rakyat itu membawa penonton pada suasana kampung tempo dulu, saat kaulinan budak menjadi bagian dari keseharian.
Di panggung yang sama, Tari Kaulinan dari Arimbi Art menyusul, menghadirkan gerak ceria yang mengingatkan bahwa budaya tumbuh dari keceriaan dan kebersamaan.
Suasana kemudian berubah lebih dinamis ketika Tempas Sindir dari Sanggar Seni Lingga Manik SMAN 3 Sumedang tampil dengan penuh energi.
Tepuk tangan penonton kembali mengalir saat Tari Jaipongan ditampilkan, menghadirkan pesona tari Sunda yang luwes namun kuat.
Kemeriahan tak berhenti di situ. Atraksi Panahan Tradisional Satria Madang dan Rampak Tarompet PSBS menambah warna pada Sabtu budaya tersebut.
Tiupan tarompet yang menggema di ruang terbuka geoteater menjadi penanda bahwa seni tradisi masih menemukan ruang hidupnya di tengah masyarakat.
Baca Juga:Tinjau Progres Pembangunan, Bupati Sumedang Targetkan Jembatan Sasak Bereum Ujungjaya Rampung Akhir DesemberAntisipasi Banjir Musim Hujan, Bupati Dony Tinjau Normalisasi Sungai Sukanyere Ujungjaya
Di antara penonton, tampak Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menyimak setiap penampilan. Baginya, Ekosistem Budaya Kasumedangan bukan sekadar agenda seni, melainkan ikhtiar menjaga jati diri daerah.
“Budaya adalah identitas dan kekuatan Sumedang. Jika terus dipertunjukkan, budaya akan tetap hidup dan dicintai generasi muda,” ujar Dony.
Ia menilai Geoteater Rancakalong memiliki posisi strategis sebagai pusat pengembangan seni dan budaya. Tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, geoteater juga berfungsi sebagai rumah bersama untuk belajar, berkarya, dan menumbuhkan kreativitas masyarakat, khususnya generasi muda.
“Budaya tidak cukup disimpan, tetapi harus dihidupkan. Di sinilah ruang bagi masyarakat mengekspresikan seni dan tradisi,” katanya.
