Asap Isap Rokok

Asap Isap Rokok
Petani tembakau itu ibarat lantai ring tinju: diinjak, tapi tak pernah ikut tanding. Padahal tanpa lantai, tinju bubar.
0 Komentar

Tengok saja, produksi rokok nasional 2026 melonjak 9,76% jadi 157,4 miliar batang. Laba yang terdistribusikan ke pemilik entitas induk melonjak 2.440% dari Rp117,16 miliar menjadi Rp2,976 triliun pada semester 1 2026.

Saham melompat naik dari Rp8.725 pada Agustus 2025 menjadi Rp21.725 pada Agustus 2026. Ke publik bicara pendapatan turun, karena rokok rakyat “ilegal”, tapi laba naik 25 kali lipat.

Sementara ribuan pekerja perempuan di Madura justru terancam kehilangan pekerjaan. Ini bikin kita geleng-geleng kepala: yang menanam kalah, yang menghisap menang.

Baca Juga:Ini Daftar Lengkap Juara West Java Paragliding Championship 2026Jafro Megawanto dan Zhenjun Zhao Bersinar

Petani tembakau itu bukan sekadar pihak yang kalah, tapi simbol kelas bawah yang dipinggirkan.

Mereka adalah Marhaen yang dihisap, bukan oleh rokok, tapi oleh monopoli dan oligarki. Korporasi besar menguasai 62,2% pasar lewat SKM (sigaret kretek mesin), sementara SKT (sigaret kretek tangan) rakyat dianggap “ilegal”, padahal menyerap tenaga kerja lokal.

Cukai bukan sekadar pajak, melainkan pagar tinggi yang hanya bisa dilompati oleh pabrikan besar.

Petani tembakau bukan sekadar pihak yang kalah, tetapi simbol kelas bawah yang terpinggirkan dalam struktur ekonomi ekstraktif. Petani dan usaha kecil terperangkap di luar pagar, menatap dari kejauhan sambil menghisap rokok lintingan sendiri.

Di sini, kita melihat paradoks: negara mengklaim melindungi kesehatan publik dengan cukai, tapi di balik itu ada kepentingan fiskal dan korporasi-oligarkh.

Oligarki rokok memainkan narasi ganda: ke publik mereka mengeluh soal cukai, ke investor mereka pamer laba fantastis. Tapi tidak pernah menyinggung penderitaan petani. Ini menunjukkan bagaimana oligarki menutup suara kelas bawah. Oligarki pandai memainkan peran ganda dan mengendalikan narasi publik.

Di sinilah kapitalisme bekerja pada tingkat efisiensi paling sempurna. Ia tak perlu lagi membayar influencer atau konsultan humas mahal.

Baca Juga:Paragliding Championship 2026 Resmi Berakhir, Sumedang Siap Kembangkan Sport TourismKawal Pembatasan, Tronton Dilarang Masuk 

Fenomena ini oleh Benson yang meminjam rumusan Marina Welker, korporasi kapitalisme merebut kendali atas gerakan kritik sebelum gerakan itu merebut kendali atas korporasi.

Ironisnya, justru pembela mereka yang gigih dan cuma-cuma adalah mereka yang tak memegang satu lembar pun saham. Mereka adalah kita -orang yang saban membuka bungkus rokok,

berarti rutin menyetor cukai. Setiap isapan asap rokok kita sejatinya membela raksasa industri rokok, yang bahkan tak sudi tahu nama kita. Artinya cukai itu tidak ditanggung perusahaan, tapi dioper ke kantong perokok.

0 Komentar