Sudah lumrah di negeri ini, dari pemilihan RT sampai presiden, suara rakyat sering dianggap bisa dibeli dengan uang, sembako, atau janji proyek.
Tapi warga Mekarwangi membalik logika itu. Mereka memilih Surya bukan karena amplop, tapi karena integritas. Surya dianggap jujur, sederhana, dan dekat dengan warga. Pilihan ini adalah koreksi politik: jabatan bukan jaminan kualitas kepemimpinan.
Kemenangan Surya adalah pesan keras: anti-oligarki bisa lahir dari desa. Surya bukan bagian dari elite lokal, ia justru antitesisnya.
Baca Juga:Ramah Tamah HANTARU 2026, Wamen Ossy: Momentum Transformasi Layanan yang Memberi KepastianPesan Menteri Nusron di Peringatan HANTARU 2026: Transformasi, Melayani Lebih Pasti Jadi Kerja Sehari-hari
Warga Mekarwangi membuktikan bahwa mereka tidak tunduk pada dominasi modal. Mereka berani memilih figur yang merepresentasikan mereka, bukan yang sekadar punya baliho besar. Pilihan warga kepada Surya, bisa jadi representasi ketidakpercayaan kepada pemimpinnya.
Surya bin Samid adalah anomali politik. Tukang sampah yang diremehkan, dihina, tapi berani melawan status quo. Ia adalah simbol keberanian dan perlawanan terhadap patronase serta oligarki.
Ia membangun desa bukan dengan kekuatan finansial, tapi dengan solidaritas sosial. Kapital sosial, kesederhanaan, kejujuran, pun integritas mengalahkan kapital finansial.
Di Mekarwangi, gajah yang berduit tersandung oleh semut yang berdaulat. Petahana kalah bukan karena kurang baliho, tapi karena warga sudah bosan jadi penonton sirkus oligarki.
Surya, si tukang sampah, justru jadi pembersih sampah politik desa. Ia menyapu bersih patronase, menyingkirkan oligarki, dan membuktikan bahwa kursi kepala desa bisa ditempati oleh orang yang lebih tahu harga beras ketimbang harga baliho.
Namun, jangan terlalu cepat bersorak. Fenomena Surya bisa jadi hanya kilatan sesaat. Tahun 2029, otoritarianisme dan incumbency effect mungkin kembali berjaya. Oligarki tak akan rela dikangkangi kesederhanaan,
kejujuran, dan solidaritas sosial. Bagi mereka, kekuasaan adalah tujuan utama, persetan nurani, kesejahteraan, dan keadilan sosial bagi rakyat.
Baca Juga:Surat Sumbangan BPD DisoalEmpat Calon Bertarung di Pilkades Cigentur
Ah, Surya! Engkau adalah satire hidup: tukang sampah yang justru membersihkan desa dari sampah politik. Tapi apakah semut akan terus menang melawan gajah? Atau jangan-jangan, gajah sudah menyiapkan kursi plastik baru di warung kopi politik, siap patah lagi di bawah bobot oligarki?
(Kang Marbawi, 270926)
