Ah, Surya!

Ah, Surya !
JABATAN itu, kalau kata orang kampung, mirip kursi plastik di warung kopi: siapa cepat dia dapat.
0 Komentar

Sudah lumrah di negeri ini, dari pemilihan RT sampai presiden, suara rakyat sering dianggap bisa dibeli dengan uang, sembako, atau janji proyek.

Tapi warga Mekarwangi membalik logika itu. Mereka memilih Surya bukan karena amplop, tapi karena integritas. Surya dianggap jujur, sederhana, dan dekat dengan warga. Pilihan ini adalah koreksi politik: jabatan bukan jaminan kualitas kepemimpinan.

Kemenangan Surya adalah pesan keras: anti-oligarki bisa lahir dari desa. Surya bukan bagian dari elite lokal, ia justru antitesisnya.

Baca Juga:Geoteater Rancakalong dan Nafas Panjang Budaya SumedangKawal Pembatasan, Tronton Dilarang Masuk 

Warga Mekarwangi membuktikan bahwa mereka tidak tunduk pada dominasi modal. Mereka berani memilih figur yang merepresentasikan mereka, bukan yang sekadar punya baliho besar. Pilihan warga kepada Surya, bisa jadi representasi ketidakpercayaan kepada pemimpinnya.

Surya bin Samid adalah anomali politik. Tukang sampah yang diremehkan, dihina, tapi berani melawan status quo. Ia adalah simbol keberanian dan perlawanan terhadap patronase serta oligarki.

Ia membangun desa bukan dengan kekuatan finansial, tapi dengan solidaritas sosial. Kapital sosial, kesederhanaan, kejujuran, pun integritas mengalahkan kapital finansial.

Di Mekarwangi, gajah yang berduit tersandung oleh semut yang berdaulat. Petahana kalah bukan karena kurang baliho, tapi karena warga sudah bosan jadi penonton sirkus oligarki.

Surya, si tukang sampah, justru jadi pembersih sampah politik desa. Ia menyapu bersih patronase, menyingkirkan oligarki, dan membuktikan bahwa kursi kepala desa bisa ditempati oleh orang yang lebih tahu harga beras ketimbang harga baliho.

Namun, jangan terlalu cepat bersorak. Fenomena Surya bisa jadi hanya kilatan sesaat.

Tahun 2029, otoritarianisme dan incumbency effect mungkin kembali berjaya. Oligarki tak akan rela dikangkangi kesederhanaan, kejujuran, dan solidaritas sosial. Bagi mereka, kekuasaan adalah tujuan utama, persetan nurani, kesejahteraan, dan keadilan sosial bagi rakyat.

Baca Juga:Rp10,2 Miliar untuk Jalan Rusak Pemkab Kebut Perbaikan Menjelang Akhir Tahun Debu Proyek Puskesmas Dikeluhkan Warga

Ah, Surya! Engkau adalah satire hidup: tukang sampah yang justru membersihkan desa dari sampah politik. Tapi apakah semut akan terus menang melawan gajah? Atau jangan-jangan, gajah sudah menyiapkan kursi plastik baru di warung kopi politik, siap patah lagi di bawah bobot oligarki? (Kang Marbawi, 270926)

0 Komentar