Ah, Surya!

Ah, Surya !
JABATAN itu, kalau kata orang kampung, mirip kursi plastik di warung kopi: siapa cepat dia dapat.
0 Komentar

SUMEDANGEKSPRES – JABATAN itu, kalau kata orang kampung, mirip kursi plastik di warung kopi: siapa cepat dia dapat.

Tapi jangan salah, kursi jabatan tidak ada hubungannya dengan wajah ganteng atau profesi mentereng.

Tengok saja Evo Morales dari Bolivia. Anak keluarga miskin, penggembala domba, yang kemudian bisa mengalahkan Gonzalo Sanchez de Lozada, Jorge “Tuto” Quiroga, dan Samuel Doria Medina. Tahun 2005 ia duduk di kursi presiden, bukan kursi plastik warung kopi, tapi kursi yang bisa bikin oligarki keringat dingin. Sementara di negeri lain, kursi presiden bersanding dan disokong oligarkhi.

Baca Juga:Geoteater Rancakalong dan Nafas Panjang Budaya SumedangKawal Pembatasan, Tronton Dilarang Masuk 

Lalu ada Joyce Banda dari Malawi. Perempuan sederhana yang jadi presiden pertama di negaranya. Begitu duduk di kursi, ia bukannya menambah koleksi mobil mewah, malah menjual jet presiden dan 60 mobil dinas.

Uangnya dipakai beli pangan untuk rakyat miskin. Bayangkan, di negeri lain jet presiden dipakai buat gaya-gayaan, di Malawi jet presiden berubah jadi beras. Ini bukan satire kehidupan politik.

Indonesia pun punya stok tokoh sederhana. Agus Salim, diplomat yang tetap miskin meski sudah keliling dunia. Katanya, kalau makan di hotel mewah, ia tetap bawa nasi bungkus sendiri.

Sutami, menteri termiskin didunia yang pernah kita punya, justru menghasilkan proyek nasional yang masih berdiri tegak sampai sekarang. Bayangkan, menteri miskin bikin jembatan kokoh, sementara menteri kaya sering bikin proyek yang roboh sebelum diresmikan.

Nah, cerita paling segar datang dari Desa Mekarwangi, Cikarang Barat. Surya bin Samid (46), pemilah sampah, tiba-tiba jadi kepala desa.

Ia mengalahkan petahana Subur Rustadi dengan selisih tipis 92 suara. Surya dapat 4.107 suara, Subur 4.015. Tipis sekali, tapi cukup untuk bikin oligarki desa tersedak kopi sachet.

Surya ini wajahnya biasa-biasa saja, profesinya pemilah sampah, finansialnya pas-pasan. Tapi justru di situlah letak keajaiban politik. Teori incumbency effect yang biasanya membuat petahana menang telak, di Mekarwangi malah ambruk.

Baca Juga:Rp10,2 Miliar untuk Jalan Rusak Pemkab Kebut Perbaikan Menjelang Akhir Tahun Debu Proyek Puskesmas Dikeluhkan Warga

Petahana yang punya dana, jaringan birokrasi, dan patronase elit, kalah oleh tukang sampah yang hanya punya kejujuran dan kedekatan sosial.

0 Komentar