Ini Duniaku

Ini Duniaku
Dimata anakku yang baru lima tahun, 74,01 kilogram emas hasil sitaan eks Jampidsus hanyalah logam dingin yang tak bisa diajak bercakap.
0 Komentar

SUMEDANGEKSPRES – Dimata anakku yang baru lima tahun, 74,01 kilogram emas hasil sitaan eks Jampidsus hanyalah logam dingin yang tak bisa diajak bercakap.

Ia lebih memilih puzzle lego yang berserakan di lantai sebagai harta karun sejati. Balok-balok kecil itu adalah republik imajinasinya, dengan konstitusi sederhana: jangan disentuh kecuali oleh teman-temannya. Konstitusi itu adalah garis demarkasi dunianya. “Ini duniaku, itu dunia abi-umi,” katanya dengan wajah penuh kemenangan, seolah sedang mendeklarasikan kemerdekaan dari segala intervensi orang dewasa.

Lego itu bukan sekadar mainan, melainkan simbol dunia yang masih murni, ceria, penuh imajinasi. Di mata anak-anak, lego adalah blueprint masa depan: jika balok yang diberikan penuh warna, mereka bisa membangun istana; jika baloknya retak, bangunan mudah runtuh.

Baca Juga:Darurat Kekerasan Di Sekolah DPP Agpaii Desak Rekayasa Sosial Berbasis Sekolah Ramah Anak Masuk Ke Dalam RuuATR/BPN Dekat Permudah Akses Masyarakat Dapatkan Layanan Pertanahan

Sampai John Dewey tersenyum getir dari balik buku Democracy and Education. Ia menegaskan, pendidikan adalah proses rekonstruksi pengalaman. Lego adalah metafora paling sederhana dari rekonstruksi itu: anak merakit masa depan dari kepingan pengalaman sehari-hari. Paulo Freire menambahkan, pendidikan mestinya praksis pembebasan, bukan reproduksi kekerasan. Namun, apa yang terjadi di Pemalang justru sebaliknya.

Seorang siswa kelas II SD Kebondalem merakit dunianya dengan balok ejekan dan pukulan. Bangunan kecil itu runtuh sebelum sempat jadi rumah. Korban bullying yang tewas adalah bukti bahwa lego sosial kita cacat: sekolah yang mestinya jadi arena bermain aman malah kadang jadi bengkel kekerasan.

Dorothy Law Nolte sudah lama mengingatkan: “Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar menyalahkan. Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar menyayangi.

” Sajak itu adalah manual lego kehidupan. Apa yang kita titipkan pada anak, itulah bentuk bangunan yang mereka rakit.

Tetapi di Pemalang, manual itu dirobek-robek. Anak yang mestinya merakit jembatan persahabatan justru dipaksa membangun menara dendam.

Sekolah sebagai benteng mestinya kokoh, tapi ternyata ada celah di gerbang belakang.

Jam istirahat yang mestinya penuh tawa malah jadi jeda rapuh. Kamar kecil sebagai lorong sunyi berubah jadi arena kekerasan, seperti sudut gelap dalam kota lego yang tak pernah diberi lampu.

0 Komentar