SUMEDANGEKSPRES – Tak semua ubi bisa menjadi legenda. Ubi Cilembu adalah pengecualian.
Dari tanah Desa Cilembu di kaki perbukitan Sumedang, umbi berkulit kecokelatan itu menjelma menjadi ikon pertanian Jawa Barat berkat rasa manis yang muncul alami setelah dipanggang. Namun, di balik popularitasnya, tersimpan persoalan klasik: ubi ini sulit dipindahkan dari habitat asalnya tanpa kehilangan kualitas.
Persoalan itulah yang kini coba dipecahkan Pemerintah Kabupaten Sumedang melalui pendekatan yang tak lazim bagi sebagian petani: teknologi kultur jaringan.
Baca Juga:Harga Ayam Tembus Rp40 RibuAnggaran Terbatas, Rancamulya Prioritaskan Posyandu dan Jalan Lingkungan
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumedang mulai mengembangkan bibit ubi Cilembu dengan teknologi tersebut. Tujuannya bukan sekadar memperbanyak tanaman, melainkan membawa “karakter” tanah asalnya agar ubi legendaris itu dapat tumbuh di wilayah lain tanpa kehilangan mutu.
“Kami terus mendorong pengembangan ubi Cilembu dari hulu melalui kultur jaringan dan inovasi di hilir agar produksi bisa diperluas sekaligus meningkatkan daya saing pasar,” kata Kepala DKPP Sumedang, Tono Suhartono.
Teknologi itu menjadi jawaban atas tantangan yang selama ini membatasi produksi. Selama puluhan tahun, cita rasa khas ubi Cilembu dipercaya sangat dipengaruhi kondisi tanah, mikroorganisme, hingga lingkungan tumbuh di desa asalnya. Ketika ditanam di tempat lain, hasilnya kerap berbeda.
Melalui kultur jaringan, DKPP berupaya membawa bakteri khas yang terdapat pada tanah asal sehingga bibit memiliki peluang lebih besar beradaptasi di lokasi baru.
Upaya tersebut masih dalam tahap pengembangan. Sekitar 5.000 bibit telah diuji coba di berbagai wilayah dengan melibatkan kelompok tani dan aparat kewilayahan di 26 titik.
Hasilnya belum sepenuhnya memuaskan. Sebagian lokasi menunjukkan pertumbuhan yang baik, sementara sebagian lainnya belum berhasil menghasilkan kualitas yang diharapkan. Bagi pemerintah daerah, kegagalan itu justru menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan teknologi.
Upaya tersebut berangkat dari kenyataan bahwa produksi ubi Cilembu belum mampu sepenuhnya mengimbangi permintaan pasar. Saat ini sentra produksi tersebar di Kecamatan Pamulihan, Rancakalong, Tanjungsari, dan Sukasari dengan total luas lahan sekitar 462 hektare. Desa Cilembu sendiri masih menjadi pusat utama budidaya dengan sekitar 229 hektare lahan dan produksi rata-rata 1.600–1.900 ton setiap tahun.
