SUMEDANG 28 Oktober 2026— Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Medal Kabupaten Sumedang mengonfirmasi bahwa pasokan air baku dari sejumlah sumber di wilayah pelayanan masih mengalami penyusutan drastis.
Penurunan debit ini menjadi tantangan besar dalam upaya pemerataan distribusi air bersih kepada pelanggan.
Menanggapi situasi tersebut, Direktur Perumda Air Minum Tirta Medal, Hj. Imas Permasih, memaparkan secara komprehensif sejumlah faktor teknis, letak geografis, dan kondisi iklim yang memengaruhi layanan air minum di Kabupaten Sumedang saat ini.
Baca Juga:APDESI Dukung Pelaksanaan Pilkades Sistem DigitalKementerian ATR/BPN Sertipikasi Lebih dari 50 Ribu Tanah Wakaf dalam Periode Dua Tahun Kabinet Merah Putih
​Hj. Imas Permasih menjelaskan bahwa letak sumber air yang dikelola oleh perusahaan—baik sumber air permukaan, sumber air resapan, maupun sumur dalam (deep well)—mayoritas tidak berada di area permukiman warga.
​”Sumber air kita berada jauh di hulu. Air yang mengalir ke rumah-rumah pelanggan menempuh perjalanan puluhan kilometer melalui jaringan pipa transmisi dan distribusi. Dalam proses pengalirannya, konstruksi jaringan ini sangat dipengaruhi oleh kondisi alam, kelabilan kontur tanah, serta perbedaan elevasi atau ketinggian,” ungkap Hj. Imas Permasih dalam keterangan resminya, Selasa (27/10).
​Secara teknis, panjangnya bentangan perpipaan ini menyebabkan rentannya terjadi head loss atau penurunan tekanan gravitasi hidrolik.
Oleh karena itu, kelancaran pengaliran dari hulu ke hilir sangat bergandengan erat dengan faktor geoteknik di lapangan.
​Terkait dengan intensitas hujan yang belakangan mulai turun di beberapa titik permukiman warga, Hj. Imas menggarisbawahi secara keilmuan hidrologi bahwa hal tersebut belum berdampak signifikan terhadap pemulihan debit air baku di hulu.
​”Curah hujan saat ini intensitasnya masih kecil dan durasinya singkat.
Hujan yang turun di area hilir permukiman tidak serta-merta menambah pasokan di daerah tangkapan air (catchment area).
Secara teori resapan tanah, hujan ringan baru sebatas membasahi lapisan tanah permukaan (soil moisture) dan belum memiliki kemampuan untuk meresap masuk ke dalam akuifer lapisan dalam untuk memulihkan cadangan air tanah maupun menormalkan debit mata air,” terangnya.
Baca Juga:Jaga Keamanan Aset, Dirjen SPPR Imbau para Pemilik Tanah untuk Pasang Patok Tanda BatasKonsinyering HPL Badan Bank Tanah, Wamen Ossy Ingatkan Soal Keseimbangan Kecepatan Layanan dan Kepastian Hukum
​Meski dihadapkan pada kendala alam yang berujung pada tidak meratanya aliran air, Hj. Imas menegaskan bahwa tidak ada unsur pembiaran dari pihak perusahaan saat terjadi gangguan pendistribusian.
