Pertama, penyerahan Mahkota Binokasih dan pusaka kerajaan yang dalam tradisi sejarah Sumedang menjadi simbol legitimasi kekuasaan.
Kedua, hubungan garis keturunan dan tradisi politik yang menghubungkan penguasa Sumedang Larang dengan kerajaan-kerajaan Sunda sebelumnya.
Ketiga, posisi Sumedang Larang sebagai salah satu kekuatan politik di wilayah Priangan setelah runtuhnya Pajajaran. Karena itu, istilah penerus Pajajaran lebih tepat dipahami sebagai pewarisan legitimasi, simbol kebesaran, dan tradisi politik. Bukan berarti seluruh wilayah, struktur pemerintahan, dan kekuasaan Pajajaran berpindah secara utuh ke Sumedang.
Baca Juga:Mengenal Prabu Geusan Ulun, Raja Besar di Balik Sejarah SumedangAngkat Mahkota Binokasih, Kujang dan Tarawangsa ke Panggung Jawa Barat
Jejaknya Masih Tersimpan di Sumedang
Kisah hubungan Sumedang Larang dan Pajajaran masih dapat ditelusuri melalui koleksi Museum Prabu Geusan Ulun.
Mahkota Binokasih menjadi salah satu benda bersejarah yang penting dalam narasi tersebut. Benda itu bukan sekadar atribut kerajaan, tetapi juga simbol hubungan sejarah antara Sumedang Larang dan Pajajaran.
Dengan demikian, Sumedang Larang memang pernah tampil sebagai salah satu penerus warisan Pajajaran. Peran itu terutama menguat pada masa Prabu Geusan Ulun, ketika kerajaan tersebut berusaha membangun legitimasi di tengah perubahan kekuasaan di Tatar Sunda.***
Sumber Referensi:
- SISEMAR Pemerintah Kabupaten Sumedang, Mahkota Binokasih pada Kerajaan Sumedang Larang.
- Museum Prabu Geusan Ulun, Sejarah Penyerahan Pusaka Pajajaran.
- Virtual Tour Sumedang, Mahkota Binokasih.
- Jurnal Budaya Etnika ISBI Bandung, Fungsi Tradisi Ngumbah Pusaka Prabu Geusan Ulun Sumedang Larang (2021).
- Kementerian Kebudayaan RI, Profil Museum Prabu Geusan Ulun.
