SUMEDANGEKSPRES – Kerajaan Sumedang Larang memiliki hubungan sejarah yang erat dengan Kerajaan Sunda atau Pajajaran. Bahkan, setelah Pajajaran mengalami keruntuhan pada 1579, Sumedang Larang muncul sebagai salah satu kekuatan yang mengklaim meneruskan warisan kerajaan besar di Tatar Sunda tersebut.
Kisah itu berkaitan dengan sosok Prabu Geusan Ulun, raja Sumedang Larang yang memiliki nama asli Pangeran Angkawijaya. Pada masa pemerintahannya, Sumedang Larang memperoleh simbol kebesaran Pajajaran berupa Mahkota Binokasih dan sejumlah pusaka kerajaan.
Peristiwa penyerahan pusaka tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah Sumedang. Namun, apakah benar Sumedang Larang kemudian menggantikan Pajajaran?
Baca Juga:Mengenal Prabu Geusan Ulun, Raja Besar di Balik Sejarah SumedangAngkat Mahkota Binokasih, Kujang dan Tarawangsa ke Panggung Jawa Barat
Penyerahan Mahkota Binokasih
Dalam tradisi sejarah Sumedang, peristiwa penting itu berlangsung pada 22 April 1578 di Keraton Kutamaya. Saat itu, empat tokoh yang dikenal sebagai Kandaga Lante datang dari Pajajaran. Mereka adalah Sanghyang Hawu atau Jaya Perkosa, Batara Dipati Wiradidjaja atau Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Terong Peot.
Keempatnya membawa Mahkota Binokasih dan sejumlah atribut kebesaran kerajaan untuk diserahkan kepada penguasa Sumedang Larang.
Penyerahan pusaka tersebut dimaknai sebagai amanat agar Sumedang Larang meneruskan warisan kekuasaan Pajajaran. Pangeran Angkawijaya kemudian dikenal dengan gelar Prabu Geusan Ulun.
Kisah penyerahan pusaka ini juga menjadi bagian dari narasi sejarah yang dirawat Museum Prabu Geusan Ulun di Sumedang.
Pajajaran Runtuh, Sumedang Larang Menguat
Kerajaan Sunda yang berpusat di Pakuan Pajajaran mengalami keruntuhan pada 1579 setelah mendapat serangan dari Kesultanan Banten.
Situasi tersebut membuat kekuasaan politik di wilayah bekas Pajajaran berubah. Wilayah yang sebelumnya berada dalam pengaruh kerajaan itu kemudian terbagi ke sejumlah pusat kekuasaan, termasuk Banten, Cirebon, Galuh, dan Sumedang Larang.
Dalam keadaan tersebut, Sumedang Larang berusaha menempatkan diri sebagai penerus Kerajaan Sunda. Kedudukan Prabu Geusan Ulun sebagai penguasa yang memiliki hubungan dengan garis keturunan kerajaan Sunda turut memperkuat legitimasi tersebut.
Baca Juga:Hadiri Sertijab Danyonif 301/PKS, Ketua DPRD Sumedang Tekankan Sinergi TNI dan Daerah20 Rumah Warga Rancamulya Mulai Diperbaiki Lewat Program BSPS
Akan tetapi, klaim sebagai penerus tidak berarti Sumedang Larang otomatis menguasai seluruh wilayah bekas Pajajaran.
Mengapa Sumedang Disebut Pewaris Pajajaran?
Ada beberapa hal yang membuat Sumedang Larang memiliki hubungan kuat dengan warisan Pajajaran.
