Mengenal Prabu Geusan Ulun, Raja Besar di Balik Sejarah Sumedang

Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun
Prabu Geusan Ulun.(istimewa)
0 Komentar

SUMEDANGEKSPRES – Nama Prabu Geusan Ulun tidak bisa dipisahkan dari perjalanan panjang sejarah Sumedang. Ia merupakan raja yang memimpin Sumedang Larang pada masa perubahan besar di Tatar Sunda, ketika kekuasaan Kerajaan Pajajaran mulai runtuh dan peta politik kerajaan-kerajaan di Jawa Barat mengalami pergeseran.

Di bawah kepemimpinannya, Sumedang Larang memperoleh kedudukan penting. Salah satu peristiwa paling bersejarah adalah penyerahan Mahkota Binokasih, pusaka yang dikaitkan dengan kebesaran Kerajaan Sunda, kepada penguasa Sumedang.

Sosok yang memiliki nama asli Pangeran Angkawijaya itu kemudian dikenal sebagai Prabu Geusan Ulun. Namanya menjadi bagian penting dari identitas sejarah dan kebudayaan masyarakat Sumedang hingga sekarang.

Baca Juga:Tanpa Igor Tolic, Persib Tetap Bidik Kemenangan atas IsenmulangMarc Klok Kembali, Persib Bidik Tiga Poin atas Isenmulang Kalteng FC

Siapa Sebenarnya Prabu Geusan Ulun?

Prabu Geusan Ulun dikenal sebagai putra Pangeran Santri atau Pangeran Kusumahdinata I dan Ratu Pucuk Umun. Pangeran Santri merupakan tokoh yang memiliki hubungan dengan lingkungan Kesultanan Cirebon, sedangkan Ratu Pucuk Umun dikenal sebagai penguasa Sumedang Larang sebelum putranya naik takhta.

Dalam perjalanan sejarah Sumedang, keluarga tersebut memiliki peran penting dalam peralihan kekuasaan sekaligus perkembangan Islam di wilayah setempat.

Pangeran Angkawijaya kemudian naik takhta dan menggunakan gelar Prabu Geusan Ulun. Ia memerintah Sumedang Larang pada akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17.

Sejumlah sumber mencatat masa pemerintahannya berakhir sekitar 1601, sementara sumber lain menyebut 1608 atau 1610. Perbedaan ini menunjukkan bahwa penanggalan sejarah kerajaan tersebut masih perlu dibaca dengan merujuk pada berbagai sumber.

Penobatan 1578 dan Penyerahan Mahkota Binokasih

Salah satu peristiwa paling penting dalam perjalanan hidup Prabu Geusan Ulun terjadi pada 22 April 1578.

Pada hari itu, menurut catatan sejarah lokal Sumedang, empat tokoh yang dikenal sebagai Kandaga Lante datang ke Keraton Kutamaya. Mereka adalah Jaya Perkosa atau Sanghyang Hawu, Nangganan, Kondanghapa, dan Terong Peot.

Keempatnya membawa Mahkota Binokasih beserta atribut kebesaran kerajaan dari Pajajaran. Pusaka tersebut diserahkan kepada penguasa Sumedang Larang sebagai bagian dari tradisi penerusan kebesaran kerajaan Sunda.

Baca Juga:Kerajaan Sumedang Larang Pernah Berjaya, Ini Kisah Masa KeemasannyaSempat Bertahan di Kandang Ayam, Keluarga Roat Kini Berharap Punya Rumah Lagi

Pada peristiwa yang sama, Pangeran Angkawijaya dinobatkan sebagai raja dengan gelar Prabu Geusan Ulun.

Peristiwa penyerahan mahkota itu memiliki makna simbolis yang besar. Sumedang Larang tidak sekadar menerima benda pusaka, tetapi juga memperoleh legitimasi historis sebagai salah satu penerus tradisi politik Kerajaan Sunda.

0 Komentar