Kirab Mahkota Binokasih : Mengarak Sejarah, Menyusuri Jejak Kekuasaan Sunda dari Sumedang

Kirab Mahkota Binokasih
ILUSTRASI: Kirab Mahkota Binokasih bukan hanya agenda budaya. Ia adalah upaya menghadirkan kembali jejak sejarah ke ruang publik menghidupkan simbol yang selama berabad-abad menjadi penanda kekuasaan di tanah Sunda.(istimewa)
0 Komentar

Mahkota itu tak sekadar diarak. Ia membawa ingatan tentang kekuasaan yang berpindah, tentang kerajaan yang runtuh, dan tentang Sumedang yang pernah menjadi pewaris sah kejayaan Sunda.

REDAKSI, Sumedang Ekspres

DI tangan para abdi dalem, Mahkota Binokasih tak sekadar diusung. Ia diarak sebagai ingatan yang berjalan menyusuri jalan-jalan kota, melintasi batas wilayah, sekaligus menembus waktu yang panjang. Pada 8–9 Mei 2026 mendatang, kirab pusaka ini akan kembali digelar, menjadi bagian utama Milangkala Tatar Sunda yang dimulai dari Sumedang, lalu bergerak ke Ciamis, Bogor, hingga Bandung.

Kirab itu bukan hanya agenda budaya. Ia adalah upaya menghadirkan kembali jejak sejarah ke ruang public menghidupkan simbol yang selama berabad-abad menjadi penanda kekuasaan di tanah Sunda.

Baca Juga:Kabel Semrawut dan Tiang Miring di Jalur Cadas Pangeran Sumedang Ancam Keselamatan PengendaraEl Nino 2026 Ancam Sumedang, BPBD Petakan Kecamatan Rawan Kekeringan

Mahkota Binokasih sendiri bukan benda biasa. Dalam narasi sejarah Tatar Sunda, ia diyakini berasal dari Kerajaan Pajajaran, kerajaan besar yang pernah menjadi pusat peradaban Sunda sebelum runtuh pada abad ke-16. Pada masa itu, mahkota bukan sekadar atribut raja, melainkan legitimasi kekuasaan. Siapa yang memegangnya, dialah yang diakui.

Ketika Pajajaran mengalami kemunduran akibat tekanan politik dan ekspansi kekuatan baru, terjadi pergeseran kekuasaan yang tak terelakkan. Namun, yang menarik, simbol kekuasaan itu tidak hilang. Ia berpindah dan di situlah sejarah Sumedang menemukan perannya.

Mahkota Binokasih kemudian sampai ke tangan Prabu Geusan Ulun, pemimpin Kerajaan Sumedang Larang. Peristiwa ini bukan sekadar perpindahan benda pusaka, tetapi penegasan estafet kekuasaan Sunda. Sumedang Larang, yang sebelumnya merupakan kerajaan regional, mendadak memiliki legitimasi simbolik sebagai penerus Pajajaran.

Sejak saat itu, Binokasih menjadi lebih dari sekadar mahkota. Ia adalah jembatan antara dua zaman antara kejayaan Pajajaran dan kebangkitan Sumedang Larang.

Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir melihat kirab ini sebagai momentum penting untuk menghidupkan kembali kesadaran sejarah tersebut. Ia menyebut, Milangkala Tatar Sunda yang dimulai di Sumedang menjadi ruang sinergi antara pemerintah provinsi dan daerah dalam menguatkan identitas budaya.

”Milangkala Tatar Sunda akan dimulai di Kabupaten Sumedang pada 8–9 Mei. Ini merupakan event yang mensinergikan antara pemerintah provinsi dan Kabupaten Sumedang,” ujarnya.

0 Komentar