El Nino 2026 Ancam Sumedang, BPBD Petakan Kecamatan Rawan Kekeringan

kemarau, kekeringan sumedang
MEMOTONG: Seorang warga memotong dahan pohon yang kering di tengah musim kemarau. Lahan-lahan kering juga membuka potensi kebakaran hutan dan lahan. Untuk itu, patroli terpadu disiapkan, Masyarakat Peduli Api diaktifkan, dan sekat bakar sederhana mulai dibuat di titik rawan.(istimewa)
0 Komentar

PETA – peta itu kini terbentang di meja kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumedang. Garis-garis penanda wilayah rawan kembali ditebalkan, seiring ancaman El Nino 2026 yang mulai diperhitungkan sejak dini.

Musim kemarau panjang bukan sekadar kemungkinan. Ia membawa konsekuensi: kekeringan, krisis air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan yang kerap berulang di sejumlah titik.

Kepala BPBD Sumedang, Bambang Rianto, mengatakan pemetaan telah dilakukan dengan menggabungkan berbagai indicator mulai dari peta rawan bencana, ketersediaan sumber air baku, hingga prediksi musim dari BMKG.

Baca Juga:Nasib Puskesmas DTP Cimanggung Menggantung, Warga Menunggu Kepastian Pemkab Sumedang10 Ribu Anak di Sumedang Tidak Sekolah, Kadisdik: Awalnya 14 Ribu

”Semua kecamatan berpotensi terdampak jika kemarau berlangsung panjang. Tapi ada beberapa wilayah yang memang menjadi prioritas karena hampir setiap tahun mengalami kekeringan,” ujarnya kepada Sumeks, Selasa 28 April 2026.

Wilayah-wilayah itu bukan nama baru. Jatinunggal, Surian, Buahdua, Tanjungkerta, Cibugel, Darmaraja, Ujungjaya, hingga Tomo, kembali masuk dalam daftar perhatian.

”Daftar ini dinamis. Kami terus perbarui berdasarkan hasil monitoring di lapangan,” kata Bambang.

Belajar dari musim kering sebelumnya, BPBD menyiapkan sejumlah skenario. Mobil tangki disiagakan untuk droping air, tandon komunal mulai dirancang, dan kerja sama dengan PDAM serta pihak swasta diperluas. Distribusi air pun akan diatur menyesuaikan kebutuhan desa.

Di sisi lain, rencana kontinjensi tengah disusun sebuah dokumen yang akan menjadi panduan lintas sektor jika situasi memburuk.

”Di dalamnya termasuk mekanisme penetapan status siaga darurat, agar penanganan bisa lebih cepat dan terkoordinasi,” ujarnya.

Ancaman tak berhenti pada kekeringan. Lahan-lahan kering juga membuka potensi kebakaran hutan dan lahan. Untuk itu, patroli terpadu disiapkan, Masyarakat Peduli Api diaktifkan, dan sekat bakar sederhana mulai dibuat di titik rawan.

Baca Juga:Prihatin Jalan Simpang-Parakanmuncang Gelap Tanpa PJU, Pengendara di Sumedang Bernazar Belikan LampuHUT ke-448 Sumedang Diramaikan Temporary Tattoo, PD Pemuda Persis: Degradasi Nilai! 

Edukasi kepada masyarakat juga digencarkan. Larangan membakar lahan kembali ditegaskan, terutama di wilayah dengan riwayat karhutla.

Dalam upaya kesiapsiagaan, BPBD menggandeng berbagai pihak Dinas PUTR, Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, Damkar, Perhutani, TNI/Polri, hingga pemerintah kecamatan dan desa. Koordinasi difokuskan pada distribusi air bersih, dampak kesehatan, serta pengamanan wilayah rawan kebakaran.

”Saat ini sarana pendukung seperti mobil tangki dan pompa air sudah siap operasional,” kata Bambang.

0 Komentar