Dinkes Sumedang Waspadai Flu Singapura, Ini Gejala dan Cara Pencegahannya

Dinkes Sumedang Waspadai Flu Singapura, Ini Gejala dan Cara Pencegahannya
ILUSTRASI: Bintik-bintik merah memenuhi telapak kaki seorang anak yang terinfeksi Flu Singapura. Penyakit yang banyak menyerang balita ini ditandai demam, sariawan, dan ruam pada tangan maupun kaki. (istimewa)
0 Komentar

SUMEDANGEKSPRES – Di ruang-ruang kelas PAUD dan taman kanak-kanak, suara tawa anak-anak masih terdengar riang. Mereka bermain, belajar, dan berinteraksi tanpa sekat. Namun di balik aktivitas yang tampak biasa itu, ada satu penyakit yang terus menjadi perhatian dunia kesehatan: Flu Singapura.

Penyakit yang secara medis dikenal sebagai Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) itu memang belum ditemukan di Kabupaten Sumedang sepanjang 2026. Namun Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang memilih untuk tidak menunggu sampai kasus muncul.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sumedang, Surdi Sudiana, mengatakan kewaspadaan harus dibangun sejak dini mengingat HFMD merupakan penyakit infeksi virus yang sangat mudah menular, terutama pada balita dan anak-anak usia di bawah lima tahun.

Baca Juga:Bawang Putih Mulai Merangkak Naik di Sejumlah Pasar Sumedang, Beras Premium Sempat Melonjak 104 PersenPertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Sejumlah SPBU di Sumedang Kehabisan Stok

“Meski sampai saat ini belum ada laporan kasus HFMD di Sumedang, langkah antisipasi tetap dilakukan untuk mencegah potensi penyebaran,” ujar Surdi kepada Sumeks, Rabu (10 Juni 2026).

Flu Singapura ditandai dengan gejala demam mendadak, nyeri tenggorokan, munculnya sariawan atau lepuhan di dalam mulut, serta ruam kemerahan pada telapak tangan, telapak kaki, hingga area bokong. Pada sebagian kasus, ruam tersebut berkembang menjadi lepuhan kecil yang menyebabkan anak merasa tidak nyaman dan rewel.

Memasuki pertengahan tahun 2026, tren kasus HFMD di tingkat nasional maupun Jawa Barat memang menunjukkan kecenderungan menurun. Namun tingginya aktivitas anak-anak di lingkungan pendidikan membuat potensi penularan tetap perlu diwaspadai.

Interaksi yang intens di PAUD, TK, dan sekolah dasar menjadi faktor yang memungkinkan virus menyebar lebih cepat apabila muncul kasus di suatu wilayah.

Menghadapi situasi tersebut, Dinas Kesehatan Sumedang mengaktifkan berbagai langkah pencegahan yang mengacu pada filosofi pembangunan daerah “Sumedang Membumi” melalui prinsip Kadeuleu, Karampa, dan Karasa.

Pada aspek Kadeuleu atau melihat dengan cermat, Dinas Kesehatan memperkuat sistem surveilans dan kewaspadaan dini di seluruh 35 puskesmas yang tersebar di Kabupaten Sumedang. Setiap laporan terkait peningkatan kasus demam dan ruam dipantau secara berkala dari tingkat desa hingga kecamatan.

Sementara pada prinsip Karampa atau menyentuh langsung masyarakat, fasilitas kesehatan diminta memastikan kesiapan pelayanan, termasuk ketersediaan obat-obatan simptomatik dan mekanisme rujukan apabila ditemukan kasus yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

0 Komentar