ADA yang berbeda dari perayaan Hari Jadi Sumedang tahun ini. Bukan sekadar panggung hiburan, melainkan sebuah pilihan arah: kreativitas atau degradasi nilai?
“Ini yang kita rayakan?” Pertanyaan itu tidak diucapkan keras. Tapi terasa menggantung di antara poster-poster Sumedang Festival 2026 yang mulai beredar.
Salah satu yang paling menyita perhatian: event temporary tattoo yang akan dilaksanakan 24-25 April di Halaman Kantor Disparbudpora Sumedang.
Baca Juga:SMAN Jatinangor Borong Prestasi: Pencak Silat Tembus Malaysia, Tinju Kuasai SumedangSiswa SMP Negeri 1 Tanjungsari Putus Sekolah, Mahardika Dewayana: Tamparan Keras untuk Pendidikan Sumedang
Murah, terbuka, dan jelas menyasar anak muda. Namun tak semua melihatnya sebagai kreativitas. Salah satunya PD Pemuda Persis Sumedang.
“Sangat disayangkan jika peringatan hari jadi Sumedang diisi dengan kegiatan yang minim manfaat edukatif,” ujar Aril Darmawan, Kominfo PD Pemuda Persis Kabupaten Sumedang, kepada Sumeks Jumat (24/4/2026).
Nada itu bukan sekadar kritik. Ada kegelisahan. “Pemuda seharusnya diarahkan ke hal yang lebih positif,” tegas Aril.
Di titik ini, persoalan mulai bergeser. Bukan lagi soal tato. Tapi soal arah: Arah generasi, arah perayaan, dan arah identitas daerah.
Di satu sisi, festival seperti ini sering dibaca sebagai ruang ekspresi. Anak muda butuh panggung. Butuh ruang untuk tampil. Tapi di sisi lain, ada pertanyaan yang lebih dalam: Apakah semua ekspresi layak difasilitasi dalam momentum sakral?
“Hari Jadi Sumedang adalah momen sakral untuk bersyukur,” kata Aril.
“Seharusnya diisi dengan kegiatan yang memperkuat ketakwaan dan jati diri pemuda.” Kalimat itu terasa sederhana. Tapi tajam.
Baca Juga:Ikhsan Berhenti Sekolah, Alarm Sunyi Pendidikan Sumedang Mulai BerbunyiIkhsan Tinggalkan Sekolah, Menjual Harapan di Alun-alun Tanjungsari Sumedang
Karena yang sedang dipertanyakan bukan acaranya melainkan maknanya. Beberapa mungkin akan berkata: Ini hanya festival. Tidak perlu dibesar-besarkan.
Namun bagi sebagian lainnya, ini bukan hal kecil. ini tentang simbol. Tentang pesan yang diam-diam dikirim ke generasi muda. Bahwa apa yang dirayakan, akan dianggap layak. Bahwa apa yang difasilitasi, akan dianggap benar.
“Harapan kita, perayaan ini tidak hanya meriah, tapi juga penuh keberkahan,” tutup Aril.
Dan di situlah semuanya kembali bermuara. Pada satu pertanyaan yang tak pernah benar-benar selesai: Hari jadi ini ingin dikenang sebagai apa?(win)
