Ikhsan Tinggalkan Sekolah, Menjual Harapan di Alun-alun Tanjungsari Sumedang

Ikhsan SMP Negeri 1 Tanjungsari
FOTO BERSAMA: Ikhsan berfoto bersama dengan teman sekelasnya, di SMP Negeri 1 Tanjungsari.(istimewa)
0 Komentar

Langkahnya berhenti di ruang kelas. Tapi mimpinya belum benar-benar padam. Di tengah riuh Alun-alun Tanjungsari, Ikhsan menata ulang harapan –satu per satu, lewat dagangan kecil yang ia jajakan setiap sore.

ENGKOS KOSWARA, Kecamatan Tanjungsari, Sumedang Ekspres

BIASANYA, di SMPN 1 Tanjungsari penuh tawa, langkah santai, dan obrolan ringan para siswa. Namun di antara keramaian itu, ada satu kisah yang berjalan pelan, nyaris tak terdengar, tapi menyentuh.

Ikhsan, pelajar kelas VIII SMP Negeri 1 Tanjungsari, kini tak lagi mengenakan seragam sekolah. Bangku kelas yang dulu menjadi rutinitasnya, perlahan ia tinggalkan. Bukan karena menyerah, tetapi karena keadaan memaksanya memilih jalan lain.

Baca Juga:Ngaku TNI, Beli Telur 250 Kg: Ujungnya Raib Tanpa BayarJejak Sejarah Ramah Lansia di Sumedang, Menyusuri Masa Lalu Tanpa Lelah

Sejak beberapa waktu terakhir, Ikhsan terlihat berjualan di sekitar alun-alun, tepat di depan pos pemadam kebakaran. Di titik itu, ia berdiri, menawarkan dagangan sederhana kepada setiap orang yang melintas. Tangan kecil yang seharusnya memegang buku, kini sibuk mengatur barang jualan.

Kisahnya mencuat setelah sebuah video beredar di TikTok pada Jumat, 17 April 2026. Video itu bukan sekadar rekaman aktivitas berdagang. Ia menjadi jendela yang memperlihatkan kenyataan: ada anak yang harus tumbuh lebih cepat dari usianya.

Di balik unggahan itu, suara kepedulian muncul dari teman-teman sekelasnya. Mereka tidak tinggal diam. Mereka bercerita, menyampaikan harapan, sekaligus kegelisahan.

”Teman kami putus sekolah padahal dia rajin. Sekarang berjualan untuk bantu keluarga. Kami berharap bisa dibantu agar dagangannya laris,” tulis pengunggah video.

Pihak sekolah pun membenarkan kondisi tersebut. Ikhsan dikenal sebagai siswa yang tekun, disiplin, dan memiliki semangat belajar tinggi. Upaya agar ia tetap bersekolah sudah dilakukan. Namun realitas ekonomi keluarga menjadi tembok yang belum mampu ia lewati.

Ikhsan memilih membantu. Ia mengambil peran lebih besar di rumah, meski itu berarti harus menunda masa remajanya. Di balik senyum yang ia berikan kepada pembeli, tersimpan keinginan sederhana: kembali ke sekolah.

Kisah ini bukan hanya tentang satu anak. Ia adalah potret kecil dari persoalan yang lebih besar –tentang akses pendidikan yang belum sepenuhnya merata, tentang anak-anak yang berdiri di persimpangan antara mimpi dan kebutuhan hidup.

0 Komentar