Langkah tak perlu tergesa di Kabupaten Sumedang. Di kota ini, jejak sejarah hadir dekat dan bersahabat –dari lorong benteng tua di Tahura Gunung Kunci, hingga keheningan di Makam Cut Nyak Dhien, serta kemegahan Masjid Agung Sumedang –semuanya menawarkan perjalanan waktu yang bisa dinikmati perlahan, tanpa harus menguras tenaga.
KIKI KRISMIYANTI, Sumedang Ekspres
LANGKAH-langkah pelan menyusuri kota tua, napas yang teratur menikmati udara sejuk, dan pandangan yang berhenti pada bangunan-bangunan lama –di Kabupaten Sumedang, sejarah tak harus dikejar dengan tergesa. Ia justru bisa dinikmati perlahan, bahkan oleh mereka yang ingin berjalan santai tanpa kelelahan.
Di kota ini, jejak masa lalu tidak tersembunyi jauh di pelosok. Sebaliknya, ia hadir dekat, mudah dijangkau, dan bersahabat bagi siapa saja, termasuk para lansia. Jalan yang relatif mulus, lokasi yang berdekatan, serta suasana yang tenang menjadikan wisata sejarah di Sumedang bukan sekadar perjalanan, melainkan pengalaman yang menenangkan.
Baca Juga:Kenalan di MiChat, Berujung Petaka: Polisi Tangkap Pelaku Kekerasan Seksual Anak di SumedangPolisi Bongkar Modus Suntik LPG di Tanjungsari Sumedang
Salah satu yang paling dekat dengan denyut kota adalah Tahura Gunung Kunci. Berada tak jauh dari kawasan Binokasih, tempat ini menyimpan cerita masa kolonial yang masih terasa hingga kini. Di balik rimbunnya pepohonan dan udara yang sejuk, terdapat lorong-lorong bawah tanah –bekas benteng pertahanan Belanda yang dibangun antara 1914 hingga 1917 dan diresmikan pada 1918.
Dahulu, ruang-ruang itu menjadi gudang amunisi, tempat pengintaian, bahkan penjara. Kini, kawasan tersebut bertransformasi menjadi taman hutan raya yang nyaman, lengkap dengan fasilitas sederhana seperti tempat bersantai. Perjalanan ke sana pun tak melelahkan, karena lokasinya berada di tengah kota.
Tak jauh dari sana, suasana berubah menjadi lebih hening di Makam Cut Nyak Dhien. Di tempat inilah salah satu pahlawan perempuan Indonesia, Cut Nyak Dhien, mengakhiri perjalanan hidupnya.
Terletak di kawasan perbukitan Sukajaya, makam ini menghadirkan nuansa khidmat yang kuat. Nisan sederhana dan lingkungan yang terawat menjadi pengingat akan perjuangan panjang melawan penjajahan.
Meski harus melewati sejumlah anak tangga, banyak pengunjung tetap dating –bukan sekadar berziarah, tetapi juga belajar sejarah secara langsung di ruang yang sunyi dan penuh makna.
