Bapak Kos

Bapak Kos
Pancasila itu mirip Bapak Kos yang cerewet tapi bijak. Tiap tamu kos diingatkan: “Nak, jangan lupa lima aturan rumah ini.
0 Komentar

SUMEDANG EKSPRES – Pancasila itu mirip Bapak Kos yang cerewet tapi bijak. Tiap tamu kos diingatkan: “Nak, jangan lupa lima aturan rumah ini.

Lima dasar penyangga bangsa. Jangan kau abaikan, macam kulit pisang yang di lempar ke tempat sampah.

” Masalahnya, tamu kos kali ini bukan manusia, tapi si robot pintar bernama Artificial Intelligence (AI).

Baca Juga:Unik, Kapten Slamet Hiro Hito Gelar Kurban Keluarga di TanjungmekarInsan Sejahtera Semangat Berbagi 

Tamu yang satu ini bisa segalanya, dari bikin puisi sampai bikin pusing. Kita jadi bingung: masih perlu mikir sendiri, atau cukup tanya ke mesin?

Si AI ini lebih cepat dari otak manusia. Dia bisa mengunyah jutaan data dalam sekejap. Tapi ia sedingin cuaca di kutub utara dari pada hati birokrat yang baru pulang rapat.

Walau pintarnya hampir “nyundul langit”, ia tak bisa merasakan kebersamaan gotong royong ketika tetangga hajatan, kerja bakti atau kepaten (kematian). Pun tak faham makna hidup “musyawarah mufakat” selain sekadar algoritma voting saja.

Jika ditanya ke AI apa itu “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, pasti seribu lebih jawabannya.

Dia pun bisa dengan tuntas menjelaskan adil menurut siapa? Beradab versi siapa? Bahkan bisa bikin kontrak digital; “saya – AI, lebih beradab dibandingkan para pejabat atau para pemuka”.

Faktanya, kita lebih percaya pada hasil analisis big datanya AI dari pada suara hati nurani. Padahal Pancasila itu bukan soal data.

Ia adalah ideologi yang menuntut manusia tetap jadi manusia seutuhnya. Manusia yang beradab, berketuhanan, berperikemanusiaan, mau musyawarah, menjaga persatuan, saling menghormati-menghargai, berbuat adil dan mewujudkan keadilan sosial. Bukan manusia yang sibuk update status dari pada update moral.

Baca Juga:Lulusan SMKN 1 Siap BersaingSPMB di SMK Informatika Sumedang Sudah Berjalan

Nurani ditukar Chat GPT, nalar digadai ke algoritma.Pancasila itu kompas, sementara AI hanyalah GPS -global positioning system. Kompas menuntun ke tujuan dengan nilai, GPS kadang nyasar ke jalan buntu. Kalau bangsa ini ikut GPS tanpa kompas, siap-siap saja tersesat di hutan belantara algoritma.

Kehidupan kita akan diatur AI – Sang Algoritma. Hilang lah nurani dan nalar. Manusia jadi robot, AI jadi penguasa manusia.

0 Komentar