Bapak Kos

Bapak Kos
Pancasila itu mirip Bapak Kos yang cerewet tapi bijak. Tiap tamu kos diingatkan: “Nak, jangan lupa lima aturan rumah ini.
0 Komentar

Tak bisa dibayangkan 180 juta orang Indonesia pengguna AI dalam berbagai macam platformnya, jadi hambanya AI. Angka ini setara dengan 62–63% dari total populasi Indonesia. Dengan 15-20 GB perhari yang dihabiskan natizen – tentu dari kantong sendiri tanpa subsidi, semua aktivitas kehidupannya sudah terpantau, dipantau dan diatur oleh AI.

Dengan sadar kita menyerahkan kehidupan kita kepada AI.

Jangan salahkan jika suatu saat nanti, AI itu akan buat partai politik sendiri, lengkap dengan janji kampanye:” Pilihlah Aku – AI, karena Kami lebih jujur dari pada manusia”.

Jangan-jangan kampanye AI memang benar. Sebab bisa jadi AI malah lebih “adil” daripada manusia. AI hanya peduli data, dan tak peduli suku, agama, atau status sosial. Koar-koarnya AI diamini 180 juta konstituennya.Nah loh, bisa jadi benar, AI netral, manusia malah bebal rasa, tumpul nurani, hanya membela kepentingan dan keserakahannya saja.

Baca Juga:Unik, Kapten Slamet Hiro Hito Gelar Kurban Keluarga di TanjungmekarInsan Sejahtera Semangat Berbagi 

Bapak kos kita – Pancasila, pasti akan tepuk jidat:” kenapa kamu lebih percaya mesin? Padahal aku sudah mewanti-wanti untuk pegang teguh lima dasar negara ini”, sambil ngelus dada serta berguman getir:

“Manusia kalah sama robot, bukan karena robot lebih pintar, tapi karena manusia lupa cara jadi manusia yang adil dan beradab.”Ditutup dengan celetukan khas juragan kos menagih bayaran bulanan: “Adil menurut siapa? Menurut rakyat, adil itu nasi padang harganya sama, meski lauknya beda.

Menurut pejabat, adil itu semua dapat jatah, asal jangan jatah kursi kekuasaan. Beradab menurut siapa? Menurut pemilik kos, beradab itu bayar tepat waktu. Menurut para pendahulu bangsa, beradab itu tidak menjual negeri sendiri.

Menurut netizen, beradab itu jangan nyinyir di kolom komentar, meski jempol gatal pengen debat kusir.”

Selamat memeringati Hari lahir Pancasila 1 Juni 2026. Jangan sampai Pancasila jadi “Bapak Kos” yang uring-uringan gara-gara tamu kosnya tak mematuhi aturan dasar rumah – mengabaikan Pancasila.

Hanya jadi pajangan di tembok-tembok kelas. Konon di dinding kantor – kebijakan pejabat, sepertinya tak ada “Bapak Kos”. (Kang Marbawi, 300526)

0 Komentar