Ini bukan sekadar kisah satu anak. Ini tentang sistem yang sedang diuji –ketika mimpi harus berhenti di tengah jalan, digantikan tuntutan hidup yang tak bisa ditunda.
DUNIA pendidikan di Sumedang sedang tidak baik-baik saja. Mungkin ada yang setuju, mungkin juga tidak. Tapi satu peristiwa ini sulit dibantah: seorang pelajar SMP harus berhenti sekolah karena keadaan ekonomi.
Namanya Ikhsan.
Siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Tanjungsari itu kini tak lagi mengenakan seragam putih biru. Bangku kelas yang dulu ia duduki, perlahan ditinggalkan. Bukan karena malas. Bukan karena kehilangan minat belajar. Tapi karena hidup memaksanya memilih prioritas lain.
Baca Juga:Ikhsan Tinggalkan Sekolah, Menjual Harapan di Alun-alun Tanjungsari SumedangNgaku TNI, Beli Telur 250 Kg: Ujungnya Raib Tanpa Bayar
Ayah dan ibunya telah berpisah. Sejak itu, beban keluarga tidak lagi sama. Ikhsan ikut memikulnya. Ia membantu sang ibu berjualan ayam goreng demi menyambung kebutuhan sehari-hari.
Sore hari, ia bisa ditemukan di Alun-alun Tanjungsari. Tepat di depan pos pemadam kebakaran. Di sana, ia berdiri, menawarkan dagangan sederhana kepada orang-orang yang melintas. Tangan yang seharusnya memegang buku, kini sibuk melayani pembeli.
Kisahnya mencuat setelah video dirinya beredar di TikTok pada Jumat, 17 April 2026. Video itu menyebar cepat. Bukan karena sensasi, tapi karena menyentuh sesuatu yang lebih dalam: rasa kemanusiaan.
Pesan-pesan pun berdatangan. Banyak yang tersentuh. Banyak pula yang bertanya—mengapa ini bisa terjadi?
Teman-teman sekelas Ikhsan ikut bersuara. Mereka tidak diam. Mereka tahu, Ikhsan bukan siswa biasa.
“Teman kami putus sekolah padahal dia rajin. Sekarang berjualan untuk bantu keluarga. Kami berharap bisa dibantu agar dagangannya laris,” tulis salah satu unggahan.
Pihak sekolah membenarkan hal itu. Ikhsan dikenal tekun, disiplin, dan punya semangat belajar tinggi. Upaya mempertahankannya di sekolah sudah dilakukan. Namun realitas ekonomi menjadi tembok yang sulit ditembus.
Baca Juga:Jejak Sejarah Ramah Lansia di Sumedang, Menyusuri Masa Lalu Tanpa LelahKenalan di MiChat, Berujung Petaka: Polisi Tangkap Pelaku Kekerasan Seksual Anak di Sumedang
Di sisi lain, informasi yang beredar menyebut persoalan ini sudah mulai ditindaklanjuti. Bahkan, perhatian dari pemerintah daerah pun dikabarkan mulai mengarah ke kasus ini.
Namun ada satu hal penting yang perlu digarisbawahi: ini bukan ruang untuk saling menyalahkan. Bukan menyalahkan orang tua. Bukan juga menyudutkan keadaan.
