Karena tidak ada anak yang memilih hidup susah. Tidak ada anak yang bercita-cita putus sekolah.
Ikhsan hanya sedang menjalani peran yang terlalu besar untuk usianya.
Kisah ini menjadi cermin. Bahwa di balik angka-angka statistik pendidikan, masih ada cerita-cerita yang luput dari perhatian. Tentang anak-anak yang harus memilih antara belajar atau bertahan hidup.
Dan ini bukan hanya tentang Ikhsan.
Ini tentang Sumedang.
Tentang bagaimana daerah ini menjaga anak-anaknya tetap punya akses pada mimpi. Tentang bagaimana memastikan sekolah bukan menjadi kemewahan, tapi hak yang benar-benar bisa dirasakan semua.
Kini harapan mulai tumbuh. Perhatian publik datang. Bantuan mulai dibicarakan.
Bagi Ikhsan, harapannya tetap sederhana.
Baca Juga:Ikhsan Tinggalkan Sekolah, Menjual Harapan di Alun-alun Tanjungsari SumedangNgaku TNI, Beli Telur 250 Kg: Ujungnya Raib Tanpa Bayar
Dagangannya laris. Ibunya terbantu. Dan suatu hari, ia bisa kembali ke sekolah –memakai seragamnya lagi, duduk di kelas, dan melanjutkan mimpi yang sempat terhenti.(red)
