Kirab Mahkota Binokasih : Mengarak Sejarah, Menyusuri Jejak Kekuasaan Sunda dari Sumedang

Kirab Mahkota Binokasih
ILUSTRASI: Kirab Mahkota Binokasih bukan hanya agenda budaya. Ia adalah upaya menghadirkan kembali jejak sejarah ke ruang publik menghidupkan simbol yang selama berabad-abad menjadi penanda kekuasaan di tanah Sunda.(istimewa)
0 Komentar

Menurutnya, kirab Mahkota Binokasih bukan sekadar prosesi seremonial. Di balik itu, tersimpan pesan bahwa Jawa Barat memiliki akar sejarah panjang, dari Kerajaan Pajajaran hingga Sumedang Larang. Sebuah kesinambungan yang jarang disadari masyarakat modern.

Nama Binokasih sendiri mengandung makna yang dalam: sumber kasih sayang. Sebuah filosofi yang, dalam konteks kekuasaan masa lalu, menjadi penyeimbang antara otoritas dan kebijaksanaan. Kekuasaan tidak semata soal kendali, tetapi juga tentang welas asih terhadap rakyat.

Kini, mahkota itu disimpan di Keraton Sumedang Larang. Ia tak lagi dikenakan sebagai simbol kekuasaan aktif, tetapi tetap dijaga sebagai warisan yang sarat makna. Dalam setiap kirab, Binokasih seolah dihidupkan Kembali bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan untuk mengingatkannya.

Baca Juga:Kabel Semrawut dan Tiang Miring di Jalur Cadas Pangeran Sumedang Ancam Keselamatan PengendaraEl Nino 2026 Ancam Sumedang, BPBD Petakan Kecamatan Rawan Kekeringan

Bagi masyarakat, kirab ini menjadi sarana belajar sejarah yang hidup. Bukan lewat buku atau ruang kelas, tetapi melalui pengalaman langsung melihat, mengikuti, dan merasakan denyut budaya yang diwariskan.

Bupati Dony menegaskan, peringatan seperti Milangkala Tatar Sunda seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ia harus menjadi refleksi bersama. “Peringatan hari jadi bukan hanya seremoni, tetapi menjadi cermin sejarah yang dapat menjadi kompas kehidupan untuk masa depan,” katanya.

Di tengah modernitas yang serba cepat, kirab Mahkota Binokasih menghadirkan jeda. Ia mengajak untuk menoleh ke belakang, memahami asal-usul, dan menyadari bahwa identitas tidak lahir dalam sekejap. Ia dibentuk oleh perjalanan panjang, oleh simbol-simbol yang dijaga, dan oleh ingatan yang terus dirawat.

Maka ketika mahkota itu diarak dari Sumedang menuju kota-kota lain di Jawa Barat, yang sebenarnya tengah bergerak bukan hanya sebuah pusaka. Yang ikut berjalan adalah sejarah dan di dalamnya, jati diri sebuah peradaban.(red)

0 Komentar