Catatan mengenai peristiwa tersebut juga ditampilkan dalam sejarah Museum Prabu Geusan Ulun dan publikasi sejarah Pemerintah Kabupaten Sumedang.
Memimpin di Tengah Runtuhnya Pajajaran
Kepemimpinan Prabu Geusan Ulun berlangsung ketika kekuasaan Pajajaran menghadapi tekanan besar.
Pada 1579, Pakuan Pajajaran jatuh setelah serangan Kesultanan Banten. Peristiwa tersebut menjadi titik penting dalam perubahan kekuasaan di wilayah Tatar Sunda.
Baca Juga:Tanpa Igor Tolic, Persib Tetap Bidik Kemenangan atas IsenmulangMarc Klok Kembali, Persib Bidik Tiga Poin atas Isenmulang Kalteng FC
Di tengah situasi itu, Sumedang Larang tampil sebagai salah satu pusat kekuasaan yang mewarisi simbol dan tradisi kerajaan Sunda.
Prabu Geusan Ulun kemudian dikenal sebagai nalendra atau raja yang mengklaim meneruskan kebesaran Pajajaran. Dalam tradisi sejarah Sumedang, kedudukan tersebut berkaitan erat dengan penyerahan Mahkota Binokasih.
Meski demikian, penerimaan pusaka kerajaan tidak berarti seluruh wilayah Pajajaran secara otomatis berada di bawah kendali langsung Sumedang. Pengaruh politik pada masa itu memiliki dinamika tersendiri dan perlu dibedakan dari batas wilayah pemerintahan modern.
Kutamaya, Pusat Pemerintahan Sumedang Larang
Pada masa Prabu Geusan Ulun, pusat pemerintahan Sumedang Larang berada di Kutamaya.
Lokasi tersebut menjadi pusat aktivitas kerajaan dan tempat berlangsungnya berbagai peristiwa penting, termasuk penobatan Prabu Geusan Ulun serta penyerahan pusaka Pajajaran.
Kutamaya memiliki arti penting dalam ingatan sejarah Sumedang. Nama tempat ini terus disebut dalam berbagai catatan mengenai perjalanan kerajaan, meskipun jejak fisik pusat pemerintahannya tidak lagi tampil seperti sebuah kompleks keraton pada masa lalu.
Keberadaan Kutamaya memperlihatkan bahwa Sumedang pernah memiliki pusat pemerintahan kerajaan dengan struktur kekuasaan dan tradisi politiknya sendiri.
Baca Juga:Kerajaan Sumedang Larang Pernah Berjaya, Ini Kisah Masa KeemasannyaSempat Bertahan di Kandang Ayam, Keluarga Roat Kini Berharap Punya Rumah Lagi
Empat Tokoh yang Berada di Lingkaran Kekuasaan
Kisah Prabu Geusan Ulun juga tidak bisa dilepaskan dari empat tokoh yang dikenal sebagai Kandaga Lante.
Mereka adalah Jaya Perkosa, Nangganan, Kondanghapa, dan Terong Peot. Keempat tokoh tersebut memiliki tempat penting dalam cerita penyerahan Mahkota Binokasih.
Jaya Perkosa menjadi nama yang paling sering muncul dalam tradisi sejarah Sumedang. Ia dikenal sebagai tokoh yang memiliki peran dalam pertahanan dan urusan kerajaan.
Keberadaan para tokoh tersebut menunjukkan bahwa kekuasaan Sumedang Larang tidak hanya bertumpu pada sosok raja. Ada kelompok bangsawan dan pejabat kerajaan yang turut menopang pemerintahan.
