SUMEDANGEKSPRES – Jauh sebelum dikenal sebagai sebuah kabupaten di Jawa Barat, Sumedang pernah menjadi pusat kekuasaan kerajaan yang memiliki pengaruh penting di Tatar Sunda. Namanya Kerajaan Sumedang Larang.
Salah satu babak paling dikenang dalam perjalanan kerajaan ini berlangsung pada masa pemerintahan Prabu Geusan Ulun. Di tengah melemahnya kekuasaan Pajajaran pada akhir abad ke-16, Sumedang Larang tampil sebagai salah satu penerus tradisi politik dan kebudayaan Sunda.
Kisah kejayaannya tidak bisa dilepaskan dari runtuhnya Pajajaran, penyerahan Mahkota Binokasih, serta kepemimpinan seorang raja bernama Pangeran Angkawijaya yang kemudian dikenal sebagai Prabu Geusan Ulun.
Baca Juga:Sempat Bertahan di Kandang Ayam, Keluarga Roat Kini Berharap Punya Rumah Lagi31 Klub Voli Putri U-13 Se-Jabar Bertanding di Cimalaka, Sumedang
Berawal dari Kerajaan Tembong Agung
Sejarah Sumedang Larang memiliki perjalanan panjang. Dalam tradisi sejarah lokal, cikal bakalnya dikaitkan dengan Kerajaan Tembong Agung yang dipimpin Prabu Guru Aji Putih.
Kerajaan tersebut kemudian mengalami perubahan nama dan kepemimpinan. Pada masa Prabu Tajimalela, nama Himbar Buana dikenal dalam kisah asal-usul Sumedang. Nama Sumedang Larang kemudian berkembang sebagai identitas kerajaan yang berakar dari tradisi Sunda.
Sejumlah sumber sejarah dan kajian kebudayaan menyebut Sumedang Larang pernah berada dalam pengaruh Kerajaan Sunda-Galuh, kemudian menjadi bagian dari lingkungan politik Pajajaran.
Perjalanan kerajaan ini memasuki babak baru ketika Islam mulai berkembang di wilayah Sumedang. Perubahan tersebut berkaitan dengan pernikahan Ratu Pucuk Umun dengan Pangeran Santri, tokoh yang memiliki hubungan keturunan dengan Sunan Gunung Jati dari Cirebon.
Dari pasangan tersebut lahir Pangeran Angkawijaya, sosok yang kelak membawa Sumedang Larang memasuki masa penting dalam sejarahnya.
Mahkota Binokasih dan Warisan Pajajaran
Salah satu peristiwa yang paling lekat dengan kebesaran Sumedang Larang adalah penyerahan Mahkota Binokasih.
Dalam catatan sejarah lokal yang dipublikasikan Pemerintah Kabupaten Sumedang melalui SISEMAR, peristiwa tersebut berlangsung pada 22 April 1578. Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri menerima kedatangan empat tokoh yang dikenal sebagai Kandaga Lante.
Baca Juga:Gaji Rp3 Juta Bisa Beli Rumah? Ini Simulasi KPRMengenali Gejala Hipertensi dan Kapan Perlu Memeriksakan Diri
Mereka adalah Sanghyang Hawu atau Jaya Perkosa, Batara Dipati Wiradidjaya atau Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Terong Peot.
Keempat tokoh itu dikisahkan membawa Mahkota Binokasih beserta atribut kebesaran kerajaan dari Pajajaran. Penyerahan tersebut menjadi simbol penting dalam hubungan sejarah antara Pajajaran dan Sumedang Larang.
