Kerajaan Sumedang Larang Pernah Berjaya, Ini Kisah Masa Keemasannya

Mahkota Binokasih
Mahkota Binokasih menjadi salah satu peninggalan penting yang berkaitan dengan sejarah Kerajaan Sumedang Larang dan warisan Pajajaran.(istimewa)
0 Komentar

Mahkota itu kemudian menjadi salah satu lambang legitimasi dan warisan kebesaran kerajaan. Dalam tradisi sejarah Sumedang, peristiwa tersebut juga dikaitkan dengan pengangkatan Pangeran Angkawijaya sebagai penguasa bergelar Prabu Geusan Ulun.

Mahkota Binokasih kini menjadi salah satu benda bersejarah yang tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang.

Prabu Geusan Ulun Membawa Sumedang Larang ke Puncak Kejayaan

Masa pemerintahan Prabu Geusan Ulun kerap disebut sebagai periode keemasan Sumedang Larang.

Baca Juga:Sempat Bertahan di Kandang Ayam, Keluarga Roat Kini Berharap Punya Rumah Lagi31 Klub Voli Putri U-13 Se-Jabar Bertanding di Cimalaka, Sumedang

Konteks sejarahnya tidak terlepas dari peristiwa runtuhnya Pakuan Pajajaran pada 1579 setelah mendapat serangan Kesultanan Banten. Perubahan kekuasaan tersebut membuat peta politik di wilayah Sunda ikut bergeser.

Sumedang Larang kemudian tampil sebagai salah satu kekuatan yang mewarisi tradisi dan simbol kebesaran Pajajaran. Prabu Geusan Ulun memperkuat kedudukan kerajaan di tengah perubahan politik tersebut.

Pusat pemerintahan Sumedang Larang berada di Kutamaya. Sejumlah catatan sejarah menyebut wilayah pengaruh kerajaan berkembang luas, bahkan dalam tradisi Babad Sumedang digambarkan membentang hingga sejumlah kawasan di Jawa Barat.

Meski demikian, batas wilayah kekuasaan pada masa itu perlu dibaca secara hati-hati. Gambaran wilayah dalam babad atau tradisi lokal tidak selalu sama dengan batas administrasi modern.

Kekuatan Sumedang Larang pada masa tersebut bukan hanya diukur dari luas wilayah. Legitimasi politik, hubungan dengan kerajaan lain, serta keberlanjutan tradisi Sunda menjadi bagian penting dari kedudukannya.

Empat Tokoh yang Mendampingi Sang Raja

Dalam kisah masa pemerintahan Prabu Geusan Ulun, terdapat empat tokoh yang dikenal memiliki peran penting, yakni Jaya Perkosa, Nangganan, Kondanghapa, dan Terong Peot.

Mereka kerap disebut dalam cerita sejarah sebagai tokoh yang mendampingi dan mendukung kekuasaan kerajaan.

Baca Juga:Gaji Rp3 Juta Bisa Beli Rumah? Ini Simulasi KPRMengenali Gejala Hipertensi dan Kapan Perlu Memeriksakan Diri

Nama Jaya Perkosa, khususnya, memiliki tempat tersendiri dalam tradisi sejarah Sumedang. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang memiliki peran dalam urusan pertahanan dan perjuangan politik kerajaan.

Keempat tokoh tersebut juga berkaitan dengan kisah penyerahan Mahkota Binokasih. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa perjalanan sebuah kerajaan tidak hanya ditentukan oleh raja, tetapi juga oleh para tokoh yang menopang pemerintahan.

0 Komentar