Angka-angka itu adalah kabar baik bagi Bangsa Indonesia, walau belum bisa memindahkan Indonesia pindah kapling ke negara maju. Setidaknya angka itu menjadi kebiasaan baru menghitung jumlah anak miskin yang berhasil disekolahkan dari pada kebiasaan menghitung triliunan uang korupsi para koruptor.
SR tak sekedar proyek pendidikan. Ini pengakuan negara bahwa kemiskinan bukan dosa turunan yang harus ditanggung anak-anak sepanjang hayatnya. Dan negara harus hadir untuk anak-anak itu!
Paulo Freire, bisa jadi tersenyum dari alam baka sana. Bahkan bisa jadi dia rela keluar kuburan untuk berpidato berapi-api mendukung SR. Katanya, “pendidikan tidak boleh hanya menjadi mesin pencetak manusia patuh. Pendidikan harus menjadi alat pembebasan kemiskinan. Sebab orang miskin tidak membutuhkan belas kasihan semata.
Baca Juga:Wamen Ossy Laporkan Progres Dukungan Kementerian ATR/BPN dalam Percepatan Pembangunan KSPEAN di Empat ProvinsiOptimalkan Pemanfaatan Tanah Plh Dirjen PPTR : Manfaat Nyata untuk Masyarakat
Mereka membutuhkan kesempatan. Kalau tidak, sekolah hanya melahirkan lulusan yang pandai menghafal rumus tetapi tidak mengerti mengapa hidupnya selalu berada di bawah garis kemiskinan”. SR”, kata Freire “bisa memberi kesempatan untuk memutus pelanggan kemiskinan”.
Pikiran nakal bin usil datang dari Pierre Bourdie ketika melihat SR. Anak orang kaya masuk sekolah membawa bekal ekonomi, sosial, budaya dan kadang “orang dalam”. Sementara orang miskin hanya semangat dan doa.
Menjadikan sekolah hanya menjadi pabrik dan reproduksi ketimpangan. Maka SR kata Om Pierre, bisa memperpendek jarak anak yang lahir dengan privilese dan anak yang lahir hanya dengan selembar akta kelahiran – itupun kalau punya akta.
Pikiran iseng Pitirim Sorokin bahkan menyebut SR sebagai elevator sosial. Lift yang memungkinkan anak buruh tani, pemulung, nelayan miskin, pekerja informal, dan anak jalanan naik ke lantai kehidupan yang lebih tinggi. Sebab mobilitas sosial tidak mungkin terjadi kalau tangganya sengaja dicabut.
Amartya Sen lebih santun melihat SR. Dengan masuk SR, Anak miskin tidak sekadar diajari membaca buku. Mereka sedang diberi hak untuk menulis nasibnya sendiri.
Sedangkan Émile Durkheim mungkin akan menyebut SR sebagai proyek solidaritas nasional. Cara negara mengatakan kepada rakyat miskin bahwa mereka masih dianggap bagian dari republik ini.
