Petaka Di Gunung Ciremai Gara-gara Abaikan Ijin Orang Tua

Petaka Di Gunung Ciremai Gara-gara Abaikan Ijin Orang Tua
Petaka Di Gunung Ciremai Gara-gara Abaikan Ijin Orang Tua (instagram/gunung_ciremai)
0 Komentar

“Gua sudah izin, tetapi ngak izin untuk muncak,” cerita Lukas waktu bertanya kepada Raya dan Hildan.

Singkat cerita, ternyata semuanya tidak ada yang terus terang kepada orang tua masing-masing perihal perjalanan mereka menaiki puncak gunung.

“Gua sendiri ngak izin siapa-siapa, gua pikir cuma muncak doang kok, kenapa harus izin,” ujar Lukas yang mendapat pertanyaan balik dari teman-temannya.

Baca Juga:Kuntilanak Biru, Jenis Kunti Paling MenyeramkanSuara Peralatan Dapur Dipercaya Dapat Mengembalikan Orang yang Diculik Wewe Gombel

Akhirnya, perjalanan untuk mendaki gunung disepakati berangkat habis salat subuh dari rumah supaya tidak diketahui orang tua Fajar.

“Kita bawa tenda dua, snack, roti, kopi, rokok sama termos untuk air panas,” tutur Lukas.

Jumat pagi setelah salat subuh, mereka semua berangkat ke menuju Gunung Ciremai dengan pendakian dilakukan lewat jalur Linggarjati.

“Tetapi kita tidak melewati jalur pendakian, melainkan jalur yang biasa dipakai warga,” kata Lukas.

Dari jalur Linggarjati, mereka berlima masuk hutan, naik terus hingga dalam perjalanan menemui sebuah gubuk.

Untuk melepas lelah, semuanya memilih beristiraht di gubuk yang tidak diketahui pemiliknya tersebut.

Ketika sedang beristirahat, Lukas melihat ada pergerakan di semak-semak dan setelah diamati, ternyata seorang orang tua berpenampilan seperti petani muncul ke arah mereka.

Baca Juga:Mentri PPPA Setuju Herry Wirawan Dapat Hukuman Mati dan Kebiri KimiaUcapan Arteria Dahlan Sulut Kemarahan Orang Sunda, DKS Sumedang: Sikap RK Sudah Tepat

“Orangnya mengenakan caping sambil membawa keranjang, tetapi tatapan matanya seperti sedang marah,” aku Lukas menceritakan kejadian waktu itu.

“Kamu jangan macam-macam di gunung ini,” ujar orang tua tadi dalam Bahasa Sunda.

Lukas yang mendapati tatapan mata kurang nyaman dari orang tua tadi, tidak berani menatap balik. Dirinya hanya menundukan kepala sambil melihat rumput liar yang menjadi alas duduknya.

Tidak lama kemudian, orang tua tadi pergi hingga tidak terlihat lagi, Lukas dan teman-temannya meninggalkan gubuk untuk melanjutkan pendakian.

Tatapan mata yang kurang ramah dari orang tua tadi, rupanya mengganggu pikiran Lukas, hingga akhirnya bertanya kepada rekan-rekannya.

Ternyata penglihatan keempat temannya berbeda dengan yang dirasakan Lukas, mereka berempat menilai kalau sikap orang tua tadi sangat baik, ramah dan murah senyum.

“Pokoknya ngucapin selamat lah dan biar hati-hati di jalan,” ujar Lukas.

0 Komentar