Gara-gara Gelombang Panas Serang Bumi, Harga Pangan Jadi Meroket!

Gara-gara Gelombang Panas Serang Bumi, Harga Pangan Jadi Meroket!
Gara-gara Gelombang Panas Serang Bumi, Harga Pangan Jadi Meroket!/BMKG
0 Komentar

sumedangekspres – Akibat gelombang panas serang bumi, harga pangan jadi meroket? Kok bisa? Cek selengkapnya!

Cuaca ekstrem telah melanda bumi kita, dan gelombang panas menjadi musuh bersama.

“Tahun ini adalah tahun penuh rekor temperatur. Kondisi ini tidak pernah terjadi sebelumnya, di mana heat wave (gelombang panas) terjadi banyak tempat secara bersamaan,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati.

Baca Juga:Bentar Lagi Tahun Baru, Harga Bawang Malah Melonjak?Gak Nyangka! Lokasi Ini Jadi Tempat Paling Sepi di Dunia!

Dunia saat ini menyaksikan serangan bersama dari gelombang panas yang melanda berbagai negara, menimbulkan konsekuensi serius terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan global.

Fenomena ini tidak hanya terbatas pada Indonesia, tetapi telah menyapu beberapa bagian dunia dengan kekeringan dan suhu tinggi yang mencetak rekor.

“Juli 2023 lalu, heat wave yang melanda Amerika Barat bahkan mencapai 53 derajat Celcius,” tambah Dwikorita.

Sementara itu, negara-negara seperti India, Bangladesh, dan China melaporkan gelombang panas dan suhu rekor tertinggi, mengancam ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.

Dampak Terhadap Produksi Pangan Global

Akibat gelombang panas ini, banyak negara melaporkan potensi penurunan produksi pangan, termasuk di Indonesia.

Kemarau ekstrem diprediksi menyebabkan produksi beras nasional susut sekitar 1,2 juta ton, menciptakan ketegangan di pasar pangan.

Harga beras, gula, dan cabai melonjak, mencatat rekor yang merugikan konsumen.

Baca Juga:Semua Tentang SNBP 2024: Cara Daftar, Cek Kuota, Jadwal, Syarat, dan LainnyaAda Indonesia! Ini Rute Penerbangan Domestik Tersibuk di Dunia!

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memprediksi bahwa jika kondisi ini berlanjut, di tahun 2050, krisis pangan dan kelaparan global dapat menjadi ancaman nyata.

Gelombang panas ini bukan hanya masalah musiman; ini menciptakan tekanan tambahan pada sumber daya air yang sudah langka, menghasilkan apa yang dikenal sebagai water hotspot.

Faktor Penyebab Gelombang Panas Ekstrem

Menurut BMKG, ada tiga faktor utama yang menyebabkan cuaca panas ekstrem di Indonesia.

Pertama, adanya anomali iklim El Nino yang mempengaruhi suhu muka permukaan laut Pasifik di bagian timur, mengurangi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.

Kedua, anomali iklim di Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudera Hindia bagian barat, juga mengurangi pembentukan awan hujan.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, “Angin kering dari Australia menyebabkan musim kemarau kali ini lebih menyengat. Angin ini kering, mengakibatkan kelembaban semakin rendah. Jadi, sudah panasnya meningkat, kelembaban rendah, jadi terasa semakin menyengat.”

0 Komentar