sumedangekspres – Ayahanda Bupati Sumedang periode 2018-2023 Dony Ahmad Munir, KH Moch Subki Ma’mun telah berpulang di kawasan Padasuka Kecamatan Sumedang Utara pada Senin (9/9/2024) sekitar pukul 03.30.
Wafatnya KH Moch Subki Ma’mun meninggalkan duka yang mendalam bagi kerabat dan keluarga besar H Dony Ahmad Munir dan DKM Masjid Agung Sumedang. Tak hanya itu, masyarakat Sumedang turut kehilangan sosok yang kharismatik tersebut.
Hal itu diakui Imam Besar Masjid Agung Sumedang H Cecep Farhan Mubarok SH MH.
Baca Juga:Sekda Herman Suryatman Hadiri Pembukaan MTQ Tingkat Nasional XXX Tahun 2024Pemda Provinsi Jabar Raih Wahana Tata Nugraha Wiratama 2024
Menurut Cecep, semuanya telah kehilangan sosok KH Moch Subki Ma’mun dengan telah dipanggilnya beliau oleh Allah SWT. Karena jangankan ditinggalkan kematian, selama ini beliau sakit saja merasakan kehampaan dan kesepian saat memberikan Khidmah kepada jamaah Masjid Agung Sumedang.
“Yang biasa kami berkumpul, yang biasa kami rapat, beliau walaupun dalam keadaan sakit selalu mendampingi kami dengan segala ide-idenya, dengan segala nasihat-nasihatnya, dengan segala ikhtirohati-ikhtirohatnya yang begitu idealis,” kata Cecep dalam sambutannya di Masjid Agung Sumedang.
“Bagaimana seharusnya kita berkhidmat kepada umat, selalu menuntunnya dan mewanti-wanti anaknya-anaknya. Beliau juga selalu mengawal anaknya sebagai Bupati Sumedang sekaligus sebagai Ketua DKM Masjid Agung Sumedang agar bagaimana memberikan pengabdian yang terbaik kepada umat melalui Masjid Agung Sumedang ini,” tambahnya.
Dikatakan, dengan meninggalnya beliau tentunya terasa berat di hati. Apalagi sekarang dengan ketidakberadaannya beliau. “Tetapi kami ridho karena Allah SWT. Karena didepannya, disisinya di belakangnya selalu diiringi dengan kebaikan-kebaikan yang beliau telah lakukan,” katanya.
Disebutkan, sebagai generasi penerusnya yang mungkin usianya 50 tahun ini sangat merasakan bagaimana didikan dan binaan beliau. Betul-betul bukan basa basi disampaikan dalam konteks ishad ini. Tetapi, beliau benar-benar mengawal.
“Saya mulai dari PGA dulu saja, mengetahui bagaimana beliau mengawal saya waktu itu menjadi satu ketua IPNU IPPNU Kabupaten Sumedang. Bagaimana harus berkiprah dan harus berjuang. Ini yang saya tidak pernah lupa. Beliau selalu menyemangati hati saya. Kamu berjuang terus, kamu berjuang terus, berjuang, berharakah, bersiasat untuk kehebatan Islam di Sumedang ini,” jelasnya.
