SUMEDANG EKSPRES – Kawasan hutan Gunung Geulis, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, menghadapi tekanan lingkungan yang kian nyata.
Aktivitas alih fungsi lahan dan pembukaan kawasan yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir membuat kondisi hutan mengalami penurunan kualitas ekologis.
Gunung Geulis selama ini dikenal sebagai kawasan penyangga lingkungan, terutama sebagai daerah resapan air dan penyeimbang ekosistem di wilayah Jatinangor.
Baca Juga:Hutan Gunung Geulis Tergerus, Heri Ukasah: Dampak Keserakahan Manusia!Jejak Mahkota Binokasih: Sejarah Panjang Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang
Namun nyatanya, dengan berkurangnya tutupan vegetasi memunculkan kekhawatiran terhadap dampak jangka panjang, mulai dari potensi erosi hingga meningkatnya risiko bencana lingkungan.
Dalam konteks tersebut, perhatian terhadap tata kelola izin dan pengawasan kawasan hutan kembali mengemuka.
Bahkan, sejumlah pengamat lingkungan pun menilai bahwa tekanan terhadap kawasan hutan kerap terjadi ketika pemanfaatan lahan tidak diimbangi dengan pengawasan yang konsisten dan pemulihan lingkungan yang berkelanjutan.
Pengawasan kawasan hutan dinilai memiliki peran penting dalam mencegah kerusakan yang lebih luas. Tanpa kontrol yang memadai, aktivitas pemanfaatan lahan berpotensi melampaui batas peruntukan dan mengabaikan aspek keberlanjutan lingkungan.
Selain itu, mekanisme perizinan yang tidak diiringi evaluasi berkala dapat membuka celah terjadinya degradasi hutan secara perlahan.
Dalam banyak kasus, kerusakan lingkungan tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan akumulasi dari aktivitas yang berlangsung dalam jangka panjang tanpa pemantauan yang optimal.
Sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan, berbagai pihak mulai mendorong langkah pemulihan kawasan hutan melalui kegiatan penanaman pohon.
Baca Juga:2026, OJK Perketat BNPL, Ini Ciri Buy Now Pay Later yang Aman dan DiawasiDaerah Tertekan Kebijakan Pusat, Honor PPPK Paruh Waktu Sumedang Dievaluasi di Tengah Beban APBD Rp53 Miliar
Di kawasan Gunung Geulis, penanaman ribuan bibit pohon dilakukan sebagai langkah awal untuk mengembalikan fungsi ekologis yang mulai menurun.
Meski demikian, penanaman pohon dipandang bukan sebagai solusi tunggal. Keberhasilan pemulihan hutan sangat bergantung pada kelanjutan perawatan, pengawasan, serta konsistensi kebijakan perizinan di kawasan tersebut.
Tekanan terhadap hutan Gunung Geulis menjadi pengingat bahwa pelestarian lingkungan membutuhkan pendekatan jangka panjang.
Tidak hanya melalui kegiatan penanaman, tetapi juga melalui penguatan pengawasan, evaluasi izin pemanfaatan lahan, serta keterlibatan masyarakat sekitar dalam menjaga kawasan hutan.
Tentunya, upaya tersebut diharapkan dapat mencegah kerusakan yang lebih luas sekaligus menjaga fungsi strategis Gunung Geulis sebagai penyangga lingkungan bagi wilayah Sumedang dan sekitarnya.
