Hutan Gunung Geulis Tergerus, Heri Ukasah: Dampak Keserakahan Manusia!

Gunung Geulis
Ilustrasi - Foto udara perumahan di kaki Gunung Geulis, Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Jumat (16/10/2020). Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) menargetkan dapat menyalurkan kredit kepemilikan rumah sebanyak 75.000 unit di tahun 2021.(antara)
0 Komentar

SUMEDANG EKSPRES – Kerusakan hutan di kawasan Gunung Geulis, Jatinangor, kian mengkhawatirkan. Alih fungsi lahan dan praktik penebangan liar membuat kawasan yang selama ini berperan sebagai penyangga lingkungan perlahan kehilangan fungsinya.

Kondisi tersebut disoroti Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai Gerindra, Heri Ukasah Sulaeman, saat kegiatan penanaman pohon di Desa Jatiroke, Rabu (31/12/2025).

Menurutnya, kerusakan hutan yang terjadi hari ini merupakan dampak langsung dari keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam tanpa batas.

Baca Juga:Jejak Mahkota Binokasih: Sejarah Panjang Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang2026, OJK Perketat BNPL, Ini Ciri Buy Now Pay Later yang Aman dan Diawasi

“Banyak bencana alam yang kita alami sekarang berawal dari hutan yang rusak. Ini dampak dari keserakahan manusia yang mengeksploitasi alam tanpa memikirkan keberlanjutannya,” ujar Heri Ukasah.

Sebagai respons atas kondisi tersebut, DPC Partai Gerindra Kabupaten Sumedang menanam 1.200 bibit pohon di kawasan Gunung Geulis.

Kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan penanaman pohon serentak yang dilakukan Partai Gerindra di berbagai daerah di Indonesia.

Heri Ukasah menegaskan bahwa aktivitas penebangan hutan memang tidak bisa dihindari sepenuhnya, terutama untuk kepentingan pembangunan.

Namun demikian, kata dia, persoalan utama muncul ketika penebangan dilakukan tanpa aturan yang jelas dan tanpa kewajiban pemulihan.

“Masalahnya bukan hanya menebang, tapi membiarkan hutan yang sudah ditebang tetap rusak. Tidak ada penanaman kembali, tidak ada pemeliharaan. Ini yang berbahaya,” tegasnya.

Ia menilai Gunung Geulis memiliki peran vital sebagai kawasan resapan air dan penyeimbang ekosistem di wilayah Jatinangor.

Baca Juga:Daerah Tertekan Kebijakan Pusat, Honor PPPK Paruh Waktu Sumedang Dievaluasi di Tengah Beban APBD Rp53 MiliarModel Cilik Asal Ganeas, Cantika Dewi, Tampil Memukau di Milangkala Kecamatan Ganeas ke-25

Jika kerusakan terus dibiarkan, dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga langsung dirasakan masyarakat, mulai dari krisis air hingga potensi bencana longsor.

Menurut Heri Ukasah, menjaga lingkungan tidak cukup hanya dengan slogan atau wacana. Dibutuhkan aksi nyata dan berkelanjutan yang melibatkan berbagai pihak.

Karena itu, Gerindra Sumedang menargetkan kegiatan penanaman pohon dapat dilakukan di seluruh kecamatan sebagai langkah awal pemulihan hutan secara bertahap.

“Menanam pohon itu mudah, tapi merawatnya yang sering dilupakan. Kalau tidak dijaga, hasilnya tidak akan terasa,” katanya.

Sementara itu, Camat Jatinangor, Herman, menilai penanaman pohon sangat penting di tengah kondisi lingkungan yang semakin rentan.

0 Komentar