Sang Waktu 

Pojokan
Pojokan
0 Komentar

St. Augustine dalam karyanya Confessions menahbiskan, waktu hanya ada dalam kesadaran manusia: masa lalu adalah kenangan, masa depan adalah harapan, dan masa kini adalah satu momen yang terus bergerak. Pergerakan untuk selalu memanfaatkan waktu pada hal-hal yang produktif, positif dan bernilai. Atau sebaliknya! Ini soal pilihan dan komitmen. Kita hidup bukan seperti di film fiksi Back to The Future nya Marty McFly dan ilmuwan eksentrik Dr. Emmett Doc Brown yang menjelajahi ruang waktu masa lalu dan masa depan menggunakan mobil DeLorean.

Waktu tidak hanya dilihat sebagai pengukuran siklus linear, pergerakan menit, jam, hari, bulan atau tahun. Namun waktu linear yang memiliki elemen spiritual, berkaitan dengan transformasi kesadaran, proses pencerahan jiwa menuju pemahaman yang lebih tinggi. Dalam bahasa sederhana, bertambahnya waktu linear-umur adalah bertambahnya kedewasaan dan kebijaksanaan. Sehingga waktu dipahami sebagai sebuah siklus sekaligus ilusi medan energi yang memungkinkan seseorang merasakan realitas yang lebih luas dan mendalam. Tengok saja para sufi yang bermeditasi, bertahannus menyatukan dirinya dengan semesta sang Pencipta.

Akhirnya, waktu adalah kesadaran tentang diri. Kesadaran untuk belajar dan merefleksikan diri pada masa lalu, memperbaiki dan memaksimalkan diri pada saat ini. Serta bekerja keras, disiplin, konsisten, serta komitmen untuk meraih visi di masa depan. Tak terjebak pada ritual mantengin medsos di gadget sampai “belekan”. Rela menghabiskan waktu yang sejatinya terbatas. Padahal kita hidup untuk menunggu “dipanggil”. Diberi kesempatan untuk hidup yang berarti untuk sesama atau menjadi pecundang.

Baca Juga:Libur Tahun Baru Dongkrak Aktivitas Memancing di Jatigede, Spot Favorit jadi RebutanKetahanan Pangan Indonesia 2026: Refleksi Ekonomi di Tengah Tantangan Sistemik

Seperti tahun-tahun lalu yang selalu dibuang percuma. Tahun baru adalah sekedar penanda waktu objektif untuk berhenti sejenak berlaku epoche, melakukan perenungan-mengosongkan pikiran dan diri dari syahwat. Merefleksikan apa yang telah dilakukan pada masa lalu, untuk dikuatkan dan diperbaiki pada saat ini, demi masa depan/tahun yang akan datang yang lebih cerah. Disinilah letaknya perenungan di setiap waktu. Tidak hanya pada saat tahun baru yang hanya ilusi waktu sosiologis. Tapi tetap saja, kita sampaikan “Selamat Datang Tahun 2026”. Tahun harapan, recoveri, sekaligus mewujudkan kehidupan yang lebih berarti dan bermanfaat untuk sesama. (Kang Marbawi 030126)

0 Komentar