SUMEDANG EKSPRES, KOTA – Program Jumat Ngangkot, yang diwajibkan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumedang setiap hari Jumat, ternyata belum berjalan maksimal.
Meski sudah ada Surat Edaran (SE) Bupati Sumedang Nomor 60 Tahun 2025, yang mengatur kewajiban ASN menggunakan angkutan umum, realisasi di lapangan jauh dari target.
Bagi sebagian sopir angkot, program ini masih terasa seperti formalitas. “Kalau hari Jumat memang ada ASN yang naik, tapi paling satu atau dua orang saja,” ujar Didi, salah seorang sopir angkot kepada Sumeks, Rabu (11/3/2026).
Baca Juga:Program Jumat Ngangkot Bupati Sumedang Dinilai Tak Efektif, Sopir Angkot Sebut ASN Paling Satu-Dua yang NaikJalan Lingkar Bendungan Sadawarna Ambles, Bupati Sumedang Janji Perbaikan Sebelum Lebaran
Didi menambahkan, pada pekan sebelumnya, hanya terlihat dua hingga tiga ASN yang benar-benar menggunakan angkot.
“Kalau benar-benar konsisten, tentu program ini bisa membantu meningkatkan pendapatan sopir angkot yang selama ini menurun,” kata Didi.
Surat Edaran Bupati Sumedang Nomor 60 Tahun 2025 menekankan kewajiban seluruh ASN menggunakan angkutan umum setiap hari Jumat.
Kebijakan ini dimaksudkan untuk: Mendukung ekonomi pelaku usaha angkutan umum dan UMKM. Mengurangi kemacetan di pusat kota dan jalur padat. Mendorong penggunaan pembayaran digital pada transportasi publik. Memberikan sanksi bagi pegawai yang melanggar aturan.
Program ini mulai diintensifkan pada minggu kedua Juli 2025. Namun di lapangan, pelaksanaannya masih jauh dari harapan. Sopir angkot lain, Asep, menambahkan, “Jarang sekali ada ASN yang naik angkot. Banyak yang lebih memilih menggunakan sepeda motor atau mobil pribadi.”
Asep juga menyoroti kebiasaan ASN yang memarkir kendaraan di sekitar Masjid, kemudian berjalan kaki menuju kantor.
“Jadi meski ada peraturan, kenyataannya angkot tetap sepi,” ujar Asep.
Baca Juga:500 Rumah Tidak Layak Huni di Sumedang Akan Direhab Lewat Program BSPSBau Sampah Menyengat Ganggu Warga Cibeureum Wetan, Pemkab Sumedang Diminta Bertindak
Meski ASN masih sedikit yang memanfaatkan angkot, sopir mengaku penumpang harian tetap ada, terutama dari kalangan pelajar, ibu rumah tangga, dan masyarakat umum. Namun mereka menghadapi tantangan persaingan dari transportasi berbasis aplikasi.
“Pengaruhnya ada juga dari ojek online. Lumayan terasa, terutama di jam sibuk,” ujar Didi.
Para sopir berharap pemerintah daerah lebih serius dalam pengawasan dan evaluasi pelaksanaan program. Adeni, sopir angkot lain, menambahkan, “Kalau program dijalankan dengan konsisten, tentu akan sangat membantu kami.”
