Hajat Balaréa Pangauban Citarum ke-17: Merawat Kearifan Lokal, Menjaga Hubungan Manusia dan Alam

Hajat Balaréa Pangauban Citarum ke-17
Hajat Balaréa Pangauban Citarum ke-17 di Cimanggung, Sumedang, menjadi ruang refleksi untuk merawat kearifan lokal dan memperkuat pelestarian lingkungan.
0 Komentar

CIMANGGUNG – Api unggun menyala di tengah malam. Esok paginya, percakapan bergeser dari tradisi ke pengetahuan. Di Balé Sawala Cibulakan, Desa Sindanggalih, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, para incu putu Pangauban Citarum berkumpul dalam Hajat Balaréa ke-17, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Hajat Balaréa bagi Barésan Incu Putu Pangauban Citarum bukan sekadar agenda adat tahunan. Ia menjadi semacam jeda untuk menengok kembali perjalanan selama setahun: apa yang telah dikerjakan, apa yang belum selesai, dan ke mana langkah pelestarian lingkungan akan diarahkan berikutnya.

Ketua Panitia Pelaksana Hajat Balaréa Pangauban Citarum ke-17, Anton Rahardjo, menyebut tradisi tersebut memiliki konsep yang serupa dengan seren taun. Para incu putu berkumpul untuk melakukan evaluasi sekaligus menyiapkan langkah berikutnya.

Baca Juga:Angka Perceraian Masih Mendominasi Perkara di Pengadilan Agama SumedangLima Kecamatan di Sumedang Masuk Kawasan Kumuh, Pemkab Fokus Benahi Permukiman dan Pengelolaan Sampah

“Hajat Balaréa itu adalah evaluasi tahunan, atau biasa kami sebut dengan seren taun. Setelah satu tahun kita melakukan dan mengerjakan apa, kita evaluasi pada hari ini,” ujar Anton.

Evaluasi itu tidak berhenti ketika acara selesai. Menurut Anton, komunitas kembali melihat perkembangan gerakan dalam kurun waktu sekitar 40 hari setelah Hajat Balaréa.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pertemuan para incu putu dari sejumlah pangauban yang diundang. Malam harinya, mereka mengikuti kegiatan berkemah dan penyalaan api unggun yang menjadi bagian dari simbol dalam rangkaian adat.

Memasuki pagi, suasana berubah menjadi ruang diskusi. Sejumlah akademisi dari lingkungan sekitar hadir membicarakan hubungan antara tradisi dan pengetahuan, salah satunya melalui tema legitimasi Patanjala dalam perspektif ilmu pengetahuan.

Pendamping kegiatan laku Patanjala, Rahmat Leuweung, mengatakan Patanjala merujuk pada sejumlah sumber tulisan yang digunakan untuk memahami hubungan manusia dengan alam.

Dalam pemahaman tersebut, air menempati posisi penting. Patanjala tidak semata-mata dipandang sebagai konsep tentang air, tetapi juga sebagai cara membaca hubungan manusia dengan lingkungan tempatnya hidup.

“Yang pertama adalah bagaimana manusia paham dengan kondisi alamnya. Yang kedua, manusia memahami tentang keserasian alam atau karisan. Dan terakhir adalah bagaimana Patanjala sebagai pasang-pasungai menjadi norma dalam kehidupan masyarakat,” kata Rahmat.

0 Komentar