Gagasan itu membawa pembicaraan pada satu hal mendasar: manusia tidak berdiri di luar alam. Kehidupan manusia bergantung pada air, tanah, hutan, dan ekosistem yang mengelilinginya. Karena itu, menjaga alam bukan hanya urusan lingkungan, melainkan juga bagian dari tata kehidupan masyarakat.
Hajat Balaréa kemudian menjadi pertemuan antara tradisi, refleksi, dan pengetahuan. Kearifan lokal yang diwariskan antargenerasi tidak berhenti sebagai simbol, tetapi dibicarakan kembali untuk menjawab persoalan lingkungan yang terus berubah.
Di tengah tekanan terhadap lingkungan, ruang seperti Hajat Balaréa menjadi penting karena mengingatkan masyarakat bahwa pelestarian alam memiliki akar yang panjang dalam kehidupan budaya.
Baca Juga:Angka Perceraian Masih Mendominasi Perkara di Pengadilan Agama SumedangLima Kecamatan di Sumedang Masuk Kawasan Kumuh, Pemkab Fokus Benahi Permukiman dan Pengelolaan Sampah
Melalui Hajat Balaréa Pangauban Citarum ke-17, para incu putu kembali menegaskan pentingnya merawat hubungan harmonis antara manusia, air, dan alam. Tradisi itu pada akhirnya bukan hanya tentang mengenang warisan leluhur, tetapi juga mencari cara agar warisan tersebut tetap relevan untuk kehidupan hari ini dan masa mendatang.(win)
