KOTA – Lebih dari 400 orang dari Pondok Pesantren Al Istiqlaliyah, Cilongok, Kabupaten Tangerang, Banten, mengunjungi Keraton Sumedang Larang pada Rabu malam, 23 September 2026.
Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk mengenal kembali sejarah Sumedang Larang dan kaitannya dengan perkembangan budaya Sunda serta syiar Islam.
Rombongan dipimpin KH Rd. Totoh Tohawi Romli bersama keluarga besar dan jamaah pesantren. Selain bersilaturahmi, mereka mengikuti wisata religi dan mendapat penjelasan mengenai sejarah serta sejumlah peninggalan Keraton Sumedang Larang.
Baca Juga:Dony Minta Persoalan Tanah di Sumedang Diselesaikan CepatBPD Cimanggung Cabut Surat Sumbangan Pilkades dan Minta Maaf
Sri Radya R.H.I. Lukman Soemadisoeria mengatakan pelestarian sejarah tidak hanya berkaitan dengan peninggalan fisik, tetapi juga nilai yang terkandung di dalamnya.
“Yang terpenting adalah menjaga bentuk dan nilai sejarahnya,” kata Lukman.
Radya Anom R. Luky Djohari Soemawilaga kemudian
memaparkan perjalanan Sumedang Larang, mulai dari Tembong Agung hingga masa Prabu Geusan Ulun.
Ia juga menjelaskan sejumlah peninggalan yang berkaitan dengan sejarah kerajaan, di antaranya Pedang Kimastak milik Prabu Tajimalela dan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake.
Menurut Luky, Mahkota Binokasih Sanghyang Pake diserahkan dari Kerajaan Sunda Pajajaran kepada Sumedang Larang pada 22 April 1578. Mahkota tersebut, kata dia, menjadi salah satu simbol dalam sejarah dan budaya Sunda.
“Mahkota ini sebagai simbol keagungan adat istiadat budaya Sunda. Nilai kasih sayang merupakan sumber daya kehidupan yang melahirkan nilai silih asih, silih asah dan silih asuh,” ujar Luky.
Ia mengatakan kunjungan keluarga besar Ponpes Al Istiqlaliyah memiliki kaitan sejarah dengan Sumedang. Menurut dia, pendiri pesantren tersebut memiliki garis keturunan dari Pangeran Wangsakara atau Pangeran Tengger, yang disebut sebagai Pangeran Wiraraja II dan cucu Prabu Geusan Ulun.
Baca Juga:Pengajian Kamisan Jadi Ruang Belajar Agama bagi Ibu-ibu TanjungmekarSurat Sumbangan BPD Dipersoalkan, Dana Pilkades dan Dugaan Gratifikasi Jadi Perhatian
“Pertemuan ini bukan sebuah kebetulan, tetapi memang sudah ditakdirkan,” kata Luky.
Luky berharap pertemuan tersebut dapat memperkuat hubungan antara lingkungan pesantren dan keraton, terutama dalam upaya merawat budaya Sunda sekaligus mengembangkan syiar Islam melalui pendekatan budaya.
“Syiar Islam dengan pendekatan budaya ini harus disatukan. Agama dan budaya harus selaras,” ujarnya.
Perwakilan keluarga besar Ponpes Al Istiqlaliyah, KH Ahmad Humaini, mengatakan kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi rombongan untuk mempererat hubungan kekeluargaan sekaligus mengenal warisan budaya Sunda.
