Sirkulasi udara dan sinar matahari pagi menjadi metode utama dalam menjaga kondisi buku dan naskah.
“Sejak berdiri tahun 1974 hingga sekarang, tingkat kerusakan naskah kuno tidak bertambah dan tetap berada di kisaran 20 persen,” jelas Fetty.
Di sisi lain, Fetty juga menyoroti rendahnya minat baca dan pemahaman sejarah lokal di kalangan generasi muda.
Baca Juga:Keindahan Masjid Al Kamil Jatigede, Tempat Ibadah Sekaligus Spot Foto Favorit5 Penginapan Nyaman Dengan Harga Terjangkau di Kecamatan Jatinangor: Liburan di Sumedang Makin Seru
Ia menilai banyak pelajar yang belum mengenal sejarah Sumedang, termasuk tokoh-tokoh penting dan hari jadi daerahnya sendiri.
“Ini sangat memprihatinkan. Banyak anak-anak sekolah yang tidak tahu sejarah Sumedang, bahkan nama-nama tokoh dan makna simbol di ruang publik,” ungkapnya.
Sebagai upaya meningkatkan minat baca dan kesadaran sejarah lokal, pihak perpustakaan mulai menjalin komunikasi dengan sekolah-sekolah.
Fetty mengaku kerap mendatangi sekolah dan berdialog langsung dengan siswa pada waktu istirahat untuk memperkenalkan sejarah Sumedang dan keberadaan perpustakaan Keraton Sumedang Larang.
“Tahun 2026 kami berharap bisa mendapat waktu setidaknya 30 menit di setiap sekolah untuk memberikan pengenalan sejarah lokal. Mudah-mudahan upaya ini bisa meningkatkan minat baca dan kecintaan generasi muda terhadap sejarah Sumedang,” pungkasnya. (lay)
