Cator Uzur di Tengah Tumpukan Sampah

cator pasar tanjungsari
Cator pengangkut sampah di Pasar Tanjungsari terlihat dalam kondisi tua dan sarat muatan, di tengah lingkungan yang dipenuhi tumpukan limbah.(Engkos/Sumeks)
0 Komentar

DI balik dinding kusam dan lantai yang basah oleh limbah, sebuah cator tua berdiri dengan muatan penuh. Baknya dijejali sampah: plastik, kardus, sisa dagangan semua bercampur dalam satu perjalanan yang tak pernah benar-benar selesai.

Di sampingnya, seorang petugas bersiap. Bukan untuk beristirahat, melainkan memastikan kendaraan itu kembali bergerak.

Cator itulah yang setiap hari menjadi tulang punggung pengangkutan sampah di Pasar Tanjungsari. Namun kondisinya kini jauh dari layak.

Baca Juga:Pengawasan Dahulu, Bangunan Kemudian, Puskesmas DTP Cimanggung Masih MisteriPuskesmas DTP Cimanggung Mandek, DPRD Sumedang: Jangan Terus Jadi Wacana!

”Cator ini keluaran lama, sekitar 2017. Kondisinya sudah tidak layak,” ujar Kepala UPTD Pasar Tanjungsari, Nasir kepada Sumeks, Senin (4/5/2026).

Kerusakan bukan lagi kemungkinan melainkan rutinitas. Mesin sering mogok, rangka mulai rapuh. Namun kendaraan itu tetap dipaksakan beroperasi, karena tidak ada pengganti.

Setiap kali cator berhenti, pekerjaan ikut tertunda.

Sampah yang seharusnya segera diangkut, menumpuk lebih lama. Di ruang sempit pasar, keterlambatan kecil bisa berdampak besar bau menyebar, kenyamanan terganggu, dan citra pasar ikut dipertaruhkan.

Di tengah kondisi itu, pengelola pasar tetap berupaya menjaga ritme. Penataan dilakukan sebisanya. Petugas bekerja dengan alat yang ada.

Namun batasnya jelas.

Tanpa armada yang memadai, pengelolaan sampah hanya bertahan pada upaya darurat.

Nasir menyebut kebutuhan tambahan cator sebagai hal mendesak. Minimal dua unit baru diperlukan agar pengangkutan tidak lagi bergantung pada satu kendaraan uzur.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah, Perdagangan, dan Perindustrian Kabupaten Sumedang, Ayuh Hidayat, menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi.

Baca Juga:Janji Puskesmas DTP Cimanggung Tak Kunjung NyataTugu ”Wilujeng Sumping” Sumedang Kusam, Warga: ”Pak Dedi Yeuh Tinggal”

”Siap, kami akan fasilitasi segera. Karena itu kebutuhan mendasar,” ujarnya.

Pernyataan itu memberi harapan. Namun seperti banyak persoalan layanan publik, waktu menjadi faktor penentu.

Selama pengadaan belum terealisasi, cator tua itu tetap harus bekerja mengangkut beban yang kian berat, di tengah risiko yang terus berulang.

Di Pasar Tanjungsari, persoalannya sederhana: sampah terus ada, sementara alatnya mulai habis tenaga.(kos)

0 Komentar