DI perbatasan kota, kesan pertama seharusnya memberi cerita. Namun di Desa Ciherang, di jalur utama dari arah Bandung, yang tampak justru sebaliknya. Tugu “Wilujeng Sumping” penanda selamat datang ke Sumedang berdiri dalam kondisi kusam, cat memudar, dan tulisan yang mulai terkelupas.
Ia masih berdiri tegak, tetapi kehilangan daya sapa.
Sebagai gerbang awal, tugu itu semestinya menjadi wajah Sumedang. Namun waktu dan cuaca tampaknya lebih sering menyentuhnya dibanding perawatan yang rutin.
”Sudah lama tidak dirawat, mungkin tidak terlihat,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Baca Juga:Disdukcapil Sumedang Evaluasi Layanan, Keluhan Soal Waktu hingga Fasilitas DibenahiKirab Mahkota Binokasih : Mengarak Sejarah, Menyusuri Jejak Kekuasaan Sunda dari Sumedang
Nada suaranya datar, seolah kondisi itu sudah terlalu biasa untuk dikeluhkan.
Di sela keluhan, ia menyelipkan harapan ditujukan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
”Pak Dedi yeuh, punten tinggal (Pak Dedi ini, tolong lihat/red),” katanya, setengah bercanda, setengah berharap.
Bagi Heti Nurhayati, kondisi itu menyisakan perbandingan dengan masa lalu. Ia mengingat, tugu tersebut dulu kerap menjadi perhatian.
”Kalau dulu mah banyak yang lihat ke sini. Sekarang mah terbengkalai,” ujarnya.
Menurutnya, sebagai penanda wilayah, tugu seharusnya memberi kesan yang baik bagi siapa pun yang melintas.
”Keliatannya nggak rapi, nggak enak dipandang,” katanya.
Hal serupa disampaikan Mamat. Ia mengingat, tugu itu pernah beberapa kali dicat ulang. Namun dalam beberapa waktu terakhir, perawatan nyaris tak terlihat.
”Sudah lama tidak dibetulin. Seperti dibiarkan,” ujarnya.
Baca Juga:Kabel Semrawut dan Tiang Miring di Jalur Cadas Pangeran Sumedang Ancam Keselamatan PengendaraEl Nino 2026 Ancam Sumedang, BPBD Petakan Kecamatan Rawan Kekeringan
Sebagai bangunan ruang terbuka, paparan panas dan hujan memang tak terhindarkan. Namun tanpa perawatan berkala, kerusakan perlahan menjadi wajah baru yang menetap.
Padahal, bagi warga, tugu perbatasan bukan sekadar struktur beton. Ia adalah simbol identitas kesan pertama yang mewakili daerah di mata orang luar.
Kini, harapan itu kembali mengemuka dalam bentuk sederhana: perawatan. Agar Sumedang kembali menyapa dengan wajah yang layak, sejak langkah pertama memasuki wilayahnya.(red)
