SUMEDANG EKPRES – Hidup memang tak pernah lurus seperti penggaris. Selalu ada belokan, kadang menikung tajam.
Bayangan tubuh saja bisa menipu: tinggi cuma 170 cm, kena sinar bisa molor jadi 10 meter.
Kadang malah mirip hantu hitam yang setia mengiringi langkah. Begitulah rencana manusia: sering meleset, kadang bikin geli, kadang bikin ngeri.
Baca Juga:DPRD Provinsi Jabar Programkan Pelestarian Seni Budaya Tradisional Kades Kebonjati Ajak Warga Hidupkan Kembali Budaya
Perpustakaan sekolah pun nasibnya tak jauh beda. Dulu diniatkan jadi dapur ilmu, tempat anak-anak mengunyah buku sampai jadi kutu.
Nyatanya, malah jadi warung nongkrong pas jam istirahat, atau sekadar bengkel darurat buat ngerjain PR. Perpustakaan kini laksana restoran mewah dengan meja penuh makanan, tapi pengunjungnya entah ke mana.
Rak buku yang kurus kering makin tersudut malu, kalah gesit oleh jari-jari yang sibuk menari di layar gawai. Televisi tanpa penonton, lampu terang di ruang kosong itulah wajah perpustakaan hari ini.
“Anak Indonesia kalau tak doyan baca, mau jadi apa?” keluh Rohmat, penjaga perpustakaan SMP di Cirebon. Ia melihat ruang baca sepi, sementara murid-murid lebih percaya pada ChatGPT.
Tanya apa saja, jawabannya keluar secepat kilat. Gurunya pun ditinggal, bahkan ulangan pun bisa ditempuh dengan bantuan si mesin pintar.
Semua orang maunya instan. Macam pesan makanan cepat saji: klik, datang, lahap. ChatGPT jadi juru masak serba bisa. Murah, cepat, tanpa protes.
Tak heran minat baca bangsa ini jeblok. PISA 2022 menempatkan Indonesia di posisi 71 dari 81 negara, skor 359 turun dari 372 pada 2018.
Baca Juga:Pelatihan AI untuk Kadis, Dorong Pengambilan Keputusan Berbasis DataTekan Angka Kematian Ibu dan Bayi, Bupati: Tanggung Jawab Semua
Tujuh puluh lima persen siswa usia 15 tahun tak paham apa yang dibaca. Sulit menemukan ide utama teks, sama sulitnya dengan memberantas korupsi.
ChatGPT memang jenius. Ia melompati proses literasi, langsung menyajikan jawaban matang tanpa perlu mengunyah bacaan. Padahal membaca itu bukan sekadar mencari jawaban, tapi mengasah rasa, menajamkan nalar, melatih kepekaan. Generasi yang disuapi instan bisa kehilangan otot pikirannya.
Kita sedang menghadapi paradoks digital: jari-jemari lincah di media sosial, tapi otak tumpul membaca teks.
Perpustakaan yang agung tersisih oleh algoritma. Buku-buku yang dijaga Rohmat pelan-pelan ditinggalkan. Generasi bangsa ini menyerahkan cara berpikirnya kepada mesin.
