Di Balik Balap Liar Jatinangor: Kasih Orang Tua Tak Kenal Batas

Di Balik Balap Liar Jatinangor: Kasih Orang Tua Tak Kenal Batas
Di Balik Balap Liar Jatinangor: Kasih Orang Tua Tak Kenal Batas
0 Komentar

SUMEDANG EKSPRES — Pagi itu, Senin 19 Januari 2026, suasana Mapolsek Jatinangor tak hanya dipenuhi derap langkah aparat. Sejumlah orang tua datang dengan wajah cemas, mata sembap, dan suara yang bergetar. Mereka bukan hendak melapor, melainkan memohon.

Anak-anak mereka—remaja yang beberapa hari sebelumnya terekam kamera sedang memacu motor di jalan raya—kini berada di balik status sebagai “pelaku balap liar”.

Kasih sayang, seperti air yang meluap, mendorong para orang tua itu mendatangi kantor polisi. Mereka memohon satu hal sederhana: agar anak-anak mereka tidak dihancurkan masa depannya oleh satu kesalahan di usia muda.

Baca Juga:Satpol PP Ungkap Keterbatasan Petugas Jadi Celah Munculnya Parkir Ilegal di SumedangWarga Keluhkan Banyaknya Tukang Parkir di Pinggir Jalan, Satpol PP Sarankan Tak Perlu Turun dari Motor

Peristiwa itu berawal pada Jumat dini hari, 16 Januari 2026 sekitar pukul 02.00 WIB. Jalan Raya Bandung–Garut, tepat di depan Pintu 2 PT Kahatek, Desa Cintamulya, berubah menjadi lintasan adu kecepatan. Sekelompok pemuda menutup arus lalu lintas arah Garut, menjadikan jalan umum sebagai arena balap.

Aksi itu tak hanya membahayakan diri sendiri, tapi juga pengguna jalan lain. Video berdurasi 1 menit 4 detik merekam semuanya, lalu viral, menyulut keresahan masyarakat.

Minggu sore, 18 Januari 2026, aparat bergerak. Penyelidikan dilakukan. Lima remaja diamankan di wilayah Jatinangor dan Cileunyi. Dua sepeda motor dan dua STNK menjadi barang bukti.

Kapolsek Jatinangor Kompol Rogers Thomas, S.H., menyebut penindakan itu sebagai respons atas jeritan publik.

“Begitu kami menerima informasi dan mencermati video yang beredar, kami langsung melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan para pelaku. Tindakan ini sebagai bentuk kehadiran Polri dalam merespons keluhan masyarakat dan menjaga keselamatan pengguna jalan,” ujar Kompol Rogers Thomas.

Namun, cerita sesungguhnya justru terjadi keesokan harinya.

Satu per satu orang tua datang. Ada yang menunduk sejak melangkah masuk. Ada yang menggenggam tangan anaknya erat-erat, seolah takut kehilangan. Mereka memohon agar hukum tidak menjadi palu yang mematahkan masa depan, melainkan tangan yang membimbing.

Kasih sayang orang tua, memang tak mengenal batas. Di hadapan aparat, ego ditanggalkan, harga diri disisihkan. Yang tersisa hanya ketakutan: takut anaknya tersesat lebih jauh.

0 Komentar