Di Balik Balap Liar Jatinangor: Kasih Orang Tua Tak Kenal Batas

Di Balik Balap Liar Jatinangor: Kasih Orang Tua Tak Kenal Batas
Di Balik Balap Liar Jatinangor: Kasih Orang Tua Tak Kenal Batas
0 Komentar

Polisi pun dihadapkan pada dilema klasik: menghukum atau membina.

Kompol Rogers memilih jalan tengah.

“Kami memahami kekhawatiran orang tua. Oleh karena itu, kami mengambil langkah pembinaan dengan tetap memberikan efek jera, agar para pelaku menyadari kesalahannya dan tidak mengulangi perbuatannya di kemudian hari,” tambah Kapolsek Jatinangor.

Pembinaan itu bukan tanpa makna simbolik.

Para remaja diminta menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat lewat video. Di hadapan orang tua masing-masing, mereka bersujud. Kepala menyentuh lantai. Sebuah gestur sederhana, namun sarat pesan: penyesalan, hormat, dan kesadaran bahwa kasih orang tua tak pernah berhenti, bahkan ketika anak terjatuh.

Mereka juga diwajibkan wajib lapor setiap hari Kamis, serta mengembalikan motor yang dimodifikasi ke standar pabrikan.

Baca Juga:Satpol PP Ungkap Keterbatasan Petugas Jadi Celah Munculnya Parkir Ilegal di SumedangWarga Keluhkan Banyaknya Tukang Parkir di Pinggir Jalan, Satpol PP Sarankan Tak Perlu Turun dari Motor

Di balik kebijakan itu, Polres Sumedang ingin menyampaikan satu pesan: hukum tetap ditegakkan, tetapi masa depan anak muda tetap dijaga.

Kasi Humas Polres Sumedang AKP Awang Munggardijaya menegaskan komitmen itu.

“Balap liar merupakan pelanggaran hukum dan sangat berbahaya. Namun terhadap pelaku yang masih berusia muda, Polri mengedepankan pembinaan dengan melibatkan peran orang tua agar ada efek jera dan perubahan perilaku,” jelasnya.

Ia menambahkan, patroli dan penindakan akan terus diperkuat.

“Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga ketertiban dan segera melapor apabila menemukan aktivitas yang membahayakan keselamatan di jalan raya,” pungkasnya.

Di ruang kecil Mapolsek Jatinangor, hari itu, hukum dan kasih sayang bertemu.

Para orang tua pulang dengan langkah lebih ringan. Anak-anak mereka pulang dengan beban kesalahan, tetapi juga dengan kesempatan kedua.

Dan di sanalah, cerita ini menemukan maknanya: bahwa kasih orang tua, memang tak pernah mengenal batas—bahkan di hadapan kesalahan paling berbahaya sekalipun.(yga)

0 Komentar