SUMEDANG EKSPRES – Nama Embah Jaya Perkosa menempati posisi penting dalam sejarah Kerajaan Pajajaran dan Sumedang Larang. Ia dikenal sebagai pemimpin Kandaga Lante Pajajaran, lembaga strategis kerajaan yang bertugas menjaga pusaka, keamanan, serta martabat kekuasaan Sunda pada masa itu.
Peran Embah Jaya Perkosa menjadi sorotan sejarah ketika ia dipercaya untuk menyerahkan Mahkota Sanghyang Pake Binokasih kepada Prabu Geusan Ulun pada tahun 1578. Penyerahan pusaka agung tersebut bukan sekadar simbol, melainkan penanda beralihnya legitimasi kekuasaan Pajajaran kepada Kerajaan Sumedang Larang sebagai penerus trah Sunda.
Sebagai pemimpin Kandaga Lante, Embah Jaya Perkosa bukan sosok sembarangan. Ia dikenal sebagai figur yang gagah, berani, dan memiliki kecerdasan strategi. Kandaga Lante sendiri merupakan institusi penting yang bertanggung jawab atas perlindungan pusaka kerajaan serta pengamanan elite kerajaan Pajajaran.
Baca Juga:Mengenal Badik Curuk Aul, Pusaka Gagah Warisan Embah Jaya Perkosa Penjaga Martabat PajajaranMengenal Sosok Ong Kino, Perintis Tahu Sumedang yang Mengubah Cita Rasa Menjadi Warisan
Dalam catatan sejarah lisan dan tradisi Keraton Sumedang Larang, Embah Jaya Perkosa digambarkan sebagai sosok yang teguh memegang amanah. Kesetiaannya kepada Pajajaran dan kebijaksanaannya dalam membaca situasi politik kala itu membuat proses transisi kekuasaan berjalan tanpa konflik besar.
Salah satu peninggalan yang hingga kini masih dikenang adalah Badik Curuk Aul, sepasang pusaka warisan Embah Jaya Perkosa. Senjata ini berbentuk golok dengan ornamen dan ukiran yang mencerminkan keteguhan, keberanian, dan kecerdasan sang pemilik.
Badik Curuk Aul tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga sarat makna filosofis. Ujungnya yang tajam melambangkan ketajaman pikiran, sementara bentuknya yang kokoh merepresentasikan keteguhan sikap Embah Jaya Perkosa dalam menjaga kehormatan kerajaan.
Nama Embah Jaya Perkosa juga tak terpisahkan dari dinamika politik antara Pajajaran, Cirebon, dan Sumedang Larang. Peristiwa peperangan yang dipicu oleh konflik Harisbaya menjadi bagian dari fase penting sejarah Sumedang Larang, di mana keteguhan para tokoh Sunda diuji.
Wilayah Hanjuang di Kutamaya kerap disebut sebagai saksi kebesaran Embah Jaya Perkosa, tempat di mana nilai keberanian dan kesetiaan terhadap kerajaan diwariskan lintas generasi.
Kini, Embah Jaya Perkosa dikenang sebagai salah satu tokoh kunci yang memastikan kesinambungan sejarah Sunda. Perannya dalam penyerahan Mahkota Binokasih menjadikan Sumedang Larang berdiri kokoh sebagai penerus Pajajaran, sekaligus penjaga identitas dan kebudayaan Sunda.
