SUMEDANG ESKPRES – PUTRIKU ini, sudah semester empat (IV) di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Dia termasuk Generasi Z (lahir antara tahun 1998-2012) yang digital natives.
Hampir semua kehidupannya tak pernah lekang dengan gadgetnya. Sudah bebeberapa kali gonta-ganti gadget, walau bukan yang terbaru dan mahal. Karena saya -orang tuanya, tak melulu mengabulkan keinginannya untuk ganti handphone (HP). Kadang dibelikan yang second. Itupun harus “bertempur” dulu dengannya. Untungnya, ada solusi damai yang bisa ditempuh oleh kami. Bukan macam Board of Peace-nya Trump, yang tak melibatkan Palestina.
Dari bangun tidur hingga tidur lagi, hampir tak pernah lepas dengan HP-nya. Kehidupannya, mulai soal pemenuhan kebutuhan pribadi hingga urusan kuliah-nya, tak lepas dimediatori media sosial (medsos). Mantengin medsos seolah menjadi ritual utama. Baginya, kuota dan charger-an HP adalah nyawa kehidupan.
Baca Juga:Pesona Alam Tampomas yang Menawan dari Cafe Lasaka
Mungkin tak semua anak Generasi Z seperti putri yang kusayangi ini. Tapi saya perhatikan, tidak terlalu jauh berbeda. Bagi putriku dan sebagian besar Gen Z, perspektif dirinya, lebih utama dibanding pandangan orang lain.
Menyebabkan gampangnya perubahan emosi, takkala pendapatnya tak diterima orang lain. Kenyamanan dirinya -dalam hal apapun, menjadi tujuan. Sebuah narasi yang kadang menggerus esensi empati dan kepekaan. Seperti halnya moto para oligarkh-kapitalis, keuntungan sebesar-besarnya untuk kesejahteraanku, bukan orang lain.
Hal itu bisa jadi, karena putriku hidup dijaman serba digital. Semua bisa dilakukan dengan sentuhan di gadgetnya. Mulai pesan makanan, transportasi, informasi, hiburan, interaksi sosial, keuangan hingga hal-hal yang private, semuanya ada dalam genggamannya.
Untuk mencapai sesuatu, putriku dan generasi Z, tak terbiasa menjalani sebuah proses panjang, yang membutuhkan anggitan kesabaran dan stamina. Putriku dan generasinya, terbiasa mendapatkan keinginan/sesuatu dengan instan dan mudah.
Asupan nalarnya, bisa jadi didominasi dari medsos dan chat GPT. Menawarkan kemudahan dalam hal apapun, hasinyal yang cepat pula.
Membaca fisik buku sudah mulai ditinggalkan oleh generasinya. Distraksi medsos terhadap asupan nalarnya, mungkin lebih dominan dibanding fokus membaca dan menalar. Hal sama terjadi juga pada saya.
