Harga Daging Sapi di Pasar Sumedang Tembus Rp150 Ribu per Kg, Pedagang: Kenaikannya Tak Wajar

Pedagang Daging Sapi Sumedang
DIKELUHKAN: Pedagang melayani pembeli di lapak daging sapi di wilayah Sumedang, Rabu (4/3). Menjelang Ramadan, harga daging sapi dilaporkan naik hingga Rp150 ribu per kilogram, membuat daya beli masyarakat mulai tertekan. (Clarisa/Sumeks)
0 Komentar

SUMEDANG EKSPRES – Harga daging sapi di Sumedang melonjak tajam. Pedagang mengeluhkan kenaikan yang dinilai lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya, bahkan sudah terasa sejak beberapa bulan lalu.

Lonjakan harga disebut tak lagi musiman. Jika biasanya kenaikan terjadi mendekati bulan puasa, tahun ini harga sudah merangkak naik sejak Oktober.

Haji Ai Erni, salah seorang pedagang daging, mengatakan kondisi diperparah dengan pembatasan kuota pasokan dari pusat. Baik daging lokal maupun impor, menurutnya, sama-sama dibatasi.

Baca Juga:Menanti Sentuhan di Taman Endog Sumedang, Ikon Kota yang Mulai Kehilangan KilauAwasi Kualitas Makanan Anak, MBG Sumedang Diminta Transparan

“Sekarang dijatah, dikuota. Dari Jawa maupun luar negeri sama saja, mau impor atau lokal tetap dibatasi,” ujarnya kepada Sumeks, Rabu (4/3).

Ia menyebut, kenaikan harga tahun ini mencapai Rp10.000 per kilogram. Angka tersebut jauh di atas pola kenaikan tahunan yang biasanya hanya berkisar Rp2.000 hingga Rp5.000 per kilogram.

Keluhan serupa disampaikan Ibu Haji Ebah. Ia mengungkapkan harga daging yang sebelumnya Rp140.000 per kilogram kini telah menembus Rp150.000.

“Ada saja yang beli, tapi berkurang. Kasihan yang tidak punya, ingin makan daging tapi tidak kebeli karena mahal,” tuturnya.

Menurut pedagang, kondisi ini mulai memukul daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Daging sapi yang identik dengan menu spesial Ramadan terancam tak lagi terjangkau bagi sebagian warga.

Di sejumlah daerah lain seperti Ciwidey, harga bahkan dilaporkan mencapai Rp170.000 hingga Rp180.000 per kilogram. Perbedaan harga antarwilayah ini semakin menambah tekanan, baik bagi pedagang maupun konsumen.

Para pedagang mengaku tak memiliki ruang untuk memberi potongan harga. Modal pembelian sudah tinggi sejak dari distributor. Jika dipaksakan turun, mereka terancam merugi.

Baca Juga:Ironi Gerbang Kota: Tugu Selamat Datang Sumedang di Ciherang Kumuh dan TerbengkalaiKrisis Bahlil

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran harga akan kembali naik saat permintaan memuncak menjelang Ramadan dan Idulfitri.

Pedagang berharap ada intervensi konkret dari pemerintah untuk menstabilkan pasokan dan harga, agar komoditas pangan utama ini tetap bisa diakses masyarakat luas.(ahd)

0 Komentar